Bagikan:

JAKARTA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memuji perjuangan dan keberanian para perempuan di Jalur Gaza, Palestina, menegaskan negaranya tidak akan membiarkan mereka sendirian.

Itu disampaikan Presiden Erdogan saat berpidato dalam pertemuan cabang Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) yang berkuasa di Ankara Hari Rabu.

"Saya sangat menghormati mereka (wanita Gaza) karena bertindak berani untuk membela tanah mereka, anak-anak mereka, martabat mereka dalam menghadapi serangan biadab Israel yang telah berlangsung selama 21 bulan," katanya dikutip dari Daily Sabah 3 Juli.

"Mereka adalah perempuan yang menyembunyikan air mata mereka saat memeluk orang-orang terkasih yang terbungkus kain kafan. Mereka adalah perempuan yang tidak tunduk kepada penjajah meskipun menghadapi berbagai kesulitan, penindasan, dan tantangan," lanjutnya.

"Mereka adalah perempuan yang berada di balik perjuangan legendaris, luar biasa, dan luar biasa selama satu abad untuk kebebasan, melalui pengorbanan, keberanian, dan perlawanan," puji Presiden Erdogan.

Dalam pidatonya, Presiden Erdogan mengutip Fadwa Tuqan, penyair Palestina yang puisinya dipenuhi dengan simbol-simbol perlawanan.

"Dalam hidupnya selama 86 tahun, Tuqan menyaksikan penderitaan, pendudukan, pembantaian, dan perampasan tanah Palestina. Ia mencerminkan semangat perlawanan dalam kata-kata ini: Kelelahan tidak akan pernah menyebar di medan perang, di dahi kita, kita tidak akan pernah beristirahat, sampai kita mengusir hantu, burung gagak, dan kegelapan," katanya.

Presiden Erdogan menegaskan kembali solidaritasnya terhadap para wanita di Gaza dan Palestina, yang, katanya, "Tidak pernah membiarkan bendera perlawanan jatuh, berdiri teguh dengan iman yang tak tergoyahkan dan tekad yang tak tergoyahkan."

Mei lalu, UN Women memperkirakan lebih dari 28.000 wanita dan anak perempuan tewas di Jalur Gaza, Palestina sejak dimulainya perang pada Oktober 2023, atau satu wanita dan anak perempuan tewas setiap jam dalam serangan oleh pasukan Israel, dikutip dari WAFA.

Di antara mereka yang tewas, ribuan adalah ibu, meninggalkan anak-anak, keluarga, dan masyarakat yang hancur.

Sementara itu, sumber medis di wilayah kantong itu pada Hari Rabu mengonfirmasi, jumlah korban tewas Palestina sejak konflik terbaru pecah pada 7 Oktober 2023 telah mencapai 57.012 jiwa, sementara korban luka-luka mencapai 134.592 orang.