JAKARTA - Otoritas Umum untuk Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Arab Saudi telah menaikkan bagian bawah Kiswah (kain penutup hitam) Ka'bah hingga tiga meter pada Hari Rabu, jelang Musim Haji 1446 Hijriah.
Kegiatan tahunan ini dilakukan dengan pengangkatan bagian bawah Kiswah secara hati-hati, memisahkan sudut-sudutnya dan mengamankannya pada ketinggian tiga meter, melansir Gulf News dari SPA 16 Mei.
Kain katun putih selebar dua meter kemudian dililitkan di sekeliling bagian yang terbuka di keempat sisinya. Lampu-lampu yang mengelilingi Kakbah juga dikembalikan ke posisi yang ditentukan setelah proses tersebut.
Tradisi ini, yang dilakukan oleh tim teknis yang sangat terlatih, dirancang untuk melindungi Kiswah dari kerusakan atau penanganan selama hari-hari puncak haji, ketika jemaah melakukan tawaf, mengelilingi Ka'bah. Prosedur ini dilakukan dengan mematuhi standar keselamatan yang ketat dan sangat menghormati kesucian tempat tersebut.
Dikutip dari Arab News, Kiswah memiliki sejarah panjang. Setiap tahun, Kiswah diganti saat jemaah haji bergeser ke Arafah untuk melaksanakan wukuf.
Warna penutup Ka'bah sendiri berganti-ganti. Nabi Muhammad SAW menutupinya dengan kain Yaman bergaris putih dan merah. Sementara pada masa Khalifah Abu Bakar Al-Siddiq, Umar bin Al-Khattab dan Utsman bin Affan menutupinya dengan kain putih. Sementara, Ibn Al-Zubayr menutupinya dengan brokat merah.
Selama era Abbasiyah, Ka'bah pernah ditutupi dengan kain putih dan sekali lagi dengan kain merah. Sedangkan Sultan Seljuk menutupinya dengan brokat kuning.
Khalifah Abbasiyah Al-Nassir mengubah warna Kiswah menjadi hijau dan kemudian menjadi brokat hitam, dan warna ini tetap bertahan hingga saat ini.
"Ka’bah pernah ditutupi dengan warna putih, merah, dan hitam, dan pilihan warnanya didasarkan pada kemampuan finansial di setiap era," jelas Direktur Pusat Sejarah Makkah Dr. Fawaz Al-Dahas kepada Arab News.
Kain Qubati dibawa dari Mesir dan merupakan salah satu jenis kain terbaik yang digunakan untuk menutupi Ka’bah. Kiswah Yaman juga merupakan kain berkualitas dan paling terkenal saat itu.
Mengenai mengapa warnanya berubah seiring waktu, Dr. Al-Dahas mengatakan putih adalah warna yang paling terang, tetapi tidak tahan lama. Warna putih sering kali menjadi robek, kotor dan tidak murni saat disentuh oleh para peziarah. Karena tidak praktis atau tahan lama, kain ini diganti dengan brokat hitam-putih dan shimla, yang digunakan untuk menutupi tenda-tenda Arab.
"Kemampuan finansial yang berbeda-beda memengaruhi jenis kain yang digunakan untuk Kiswah Ka’bah," terang Dr. Al-Dahas.
Ia mencatat cara manusia memandang Kiswah berevolusi setelah itu, dan diganti dengan brokat merah dan kain qubati Mesir. Selain itu, antaa, yang merupakan permadani dari kulit, atau musouh, kumpulan pakaian kasar, akan ditambahkan ke dalamnya.
BACA JUGA:
"Kiswah dulunya diganti dari waktu ke waktu setiap kali kainnya tersedia. Ini telah terjadi di era Kekhalifahan Rashidun, Umayyah, dan Abbasiyah," katanya.
Hitam akhirnya dipilih pada akhir era Abbasiyah karena tahan lama dan dapat menahan sentuhan pengunjung, peziarah dan orang-orang dari berbagai budaya di seluruh dunia.
Buku-buku sejarah menceritakan tentang orang pertama yang menutupi Kakbah pada masa pra-Islam, Tubbaa Al-Humairi, raja Yaman. Mereka menyebutkan, ia menutupi Kakbah pada masa pra-Islam setelah ia mengunjungi Mekkah dan memasukinya dengan taat.