JAKARTA — Seorang anak perempuan menjadi korban perundungan di Tambora, Jakarta Barat. Dalam video yang menyebar luas di media sosial, ia tampak menangis, kesakitan, dan terus dipukuli oleh beberapa teman sebayanya. Tubuhnya menjadi sasaran pukulan, sementara telinganya terus dihujani makian dan tuduhan yang tak semestinya ia terima.
Di balik rekaman yang viral itu, ada trauma mendalam yang kini tengah coba disembuhkan. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) DKI Jakarta pun bergerak cepat. Melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), pendampingan terhadap korban langsung diberikan.
"Anak korban sudah menjalani asesmen psikologis, dan juga mendapatkan konsultasi hukum. Ini penting agar ia tahu bahwa hukum berpihak padanya," kata Novia Hendriyati, advokat dari UPTD PPA, Senin, 21 April.
Novi, begitu ia akrab disapa, memastikan bahwa pendampingan tidak hanya berhenti di tahap awal. Baik upaya penyelesaian melalui jalur damai (diversi) maupun jalur hukum akan terus dikawal oleh pihaknya.
"Kami tetap ada untuk mendampingi korban di setiap langkahnya," ujarnya dengan suara tegas namun lembut.
Sementara itu, ketiga anak perempuan yang diduga sebagai pelaku perundungan kini dititipkan di Rumah Aman Handayani. Mereka masih di bawah umur. Karena itu, penanganan mereka pun dilakukan dengan pendekatan khusus, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
Penanganan terhadap para pelaku kini berada di bawah Badan Pemasyarakatan (Bapas) Jakarta Barat. Novi berharap mereka juga mendapat dukungan psikologis.
BACA JUGA:
“Anak-anak yang terlibat ini juga butuh pendampingan. Kita harap Bapas bisa berkoordinasi dengan puskesmas terdekat untuk menyediakan layanan konseling. Di Jakarta, penanganan psikologis untuk anak seperti mereka bisa diakses lewat fasilitas kesehatan dasar,” jelasnya.
Polres Metro Jakarta Barat juga turut memberikan perhatian terhadap kasus ini. Menurut AKP Dimitri Mahendra, keselamatan dan kondisi psikologis korban adalah prioritas utama. "Kami langsung dampingi dan periksa secara psikologis, dibantu profesional dari P3A," katanya.
Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Sosial untuk menangani aspek sosial dari kasus ini.
Video yang memperlihatkan aksi perundungan itu menyayat hati. Korban dituduh merebut pacar salah satu pelaku, lalu diolok-olok, dimaki, dan akhirnya dianiaya secara fisik. Tangisan dan teriakan minta tolongnya tak mampu menghentikan tangan-tangan yang terus melayang ke tubuhnya.
Kini, di tengah luka yang belum sembuh, korban terus dibantu untuk bangkit. Ia tidak sendiri. Lembaga pemerintah, aparat penegak hukum, dan para pendamping terus berada di sisinya. Sebab setiap anak berhak tumbuh dalam rasa aman, bukan dalam ketakutan.