JAKARTA - Kebakaran hutan mematikan yang bermula di Uiseong, Provinsi Gyeongsang Utara, melanda wilayah tenggara Korea Selatan, menewaskan sedikitnya 24 orang, melukai 19 lainnya dan menyebabkan lebih dari 27.000 orang mengungsi.
Kebakaran yang disebabkan oleh angin kencang dan cuaca kering tersebut telah melanda empat kota dan kabupaten tetangga, kata pemerintah pada hari Rabu, menghancurkan lebih dari 17.500 hektar hutan dan 209 bangunan, termasuk rumah, kuil dan pabrik, dikutip dari The Korea Times 26 Maret.
Pihak berwenang berencana mengerahkan 87 helikopter untuk memadamkan api di daerah padat penduduk dan mengerahkan 4.919 personel. Namun, angin kencang menghambat upaya pemadaman kebakaran.
Sebuah helikopter pemadam kebakaran jatuh di sebuah gunung di Uiseong pada pukul 12:54 siang saat melakukan operasi penyediaan air, menewaskan pilotnya, menurut Dinas Kehutanan Korea.
Penyebab kecelakaan tersebut masih dalam penyelidikan. Sementara itu, otoritas kehutanan menghentikan operasi pemadaman kebakaran dengan menggunakan semua helikopter di wilayah yang terdampak.
Di Andong, seorang pria berusia 80-an ditemukan tewas terbakar di sebuah rumah yang hancur total akibat kebakaran sekitar pukul 11.00, menurut keterangan polisi.
Akibatnya, jumlah korban tewas akibat kebakaran hutan meningkat menjadi 24 orang. Dari para korban, tiga orang ditemukan di Andong, tiga orang di Cheongsong, enam orang di Yeongyang, dan 10 orang di Yeongdeok, hingga pukul 14.00 waktu setempat.
Sebagian besar korban berusia di atas 60 tahun yang mengalami kesulitan bergerak dan tidak berhasil melarikan diri dari kobaran api.
Sejak minggu lalu, kebakaran telah menyebabkan 27.079 penduduk di wilayah yang terdampak mengungsi, termasuk 20.313 orang di Uiseong dan Andong, 13.391 orang di Cheongsong, 980 orang di Yeongyang, dan 2.208 orang di Yeongdeok, dengan banyak yang berlindung di Gimnasium Dalam Ruangan Uiseong atau sekolah-sekolah di dekatnya.
Kebakaran menyebar ke Taman Nasional Jirisan, yang terletak di perbatasan antara Provinsi Jeolla Utara, Provinsi Jeolla Selatan dan Provinsi Gyeongsang Selatan sekitar pukul 1 siang.
Sementara itu, layanan kereta yang telah dihentikan pada Hari Rabu kembali beroperasi pada siang hari, lalu lintas jalan raya di beberapa bagian wilayah tenggara masih ditutup demi keselamatan.
Sementara itu, Rute Nasional 7, yang menghubungkan Provinsi Gangwon ke Busan di sepanjang pantai timur, macet karena penduduk mengungsi dari lokasi kebakaran ke wilayah selatan negara yang tidak terdampak setelah adanya perintah evakuasi dari pemerintah setempat.
Terpisah, Kementerian Kehakiman mengatakan sekitar 500 narapidana di sebuah penjara di Provinsi Gyeongsang Utara dipindahkan ke fasilitas lain pada malam hari untuk menghindari kebakaran.
Kementerian awalnya mempertimbangkan untuk memindahkan sekitar 3.500 narapidana dari beberapa fasilitas pemasyarakatan di wilayah tenggara, tetapi memutuskan untuk mengurangi jumlah tersebut karena beberapa kebakaran telah padam.
Kebakaran juga mengganggu telekomunikasi dan sempat memblokir layanan telepon dan internet di wilayah yang terkena dampak pada Rabu malam.
Kementerian Sains dan TIK mengeluarkan perintah roaming bencana kepada operator seluler dan memulihkan pemadaman layanan. Kementerian telah melakukan pelatihan dengan perusahaan telekomunikasi untuk menerapkan roaming bencana jika terjadi perang atau bencana alam, tetapi ini adalah pertama kalinya perintah tersebut dikeluarkan.
Kementerian Pertahanan Nasional mengumumkan mereka mendukung operasi pemadaman kebakaran dengan mengerahkan 990 personel pemadam kebakaran tambahan dan 48 helikopter militer ke daerah-daerah yang terkena dampak termasuk Ulsan dan Provinsi Gyeongsang.
BACA JUGA:
Menurut kementerian, total 6.000 personel pemadam kebakaran militer dan 242 helikopter militer telah dikerahkan sejak kebakaran terjadi.
Empat helikopter, termasuk Black Hawk (UH-60) dan Chinook (CH-47), milik Pasukan AS di Korea, juga dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hutan di Sancheong, Provinsi Gyeongsang Selatan, dan dikerahkan di daerah-daerah terdekat pada sore hari.
Sedangkan Kementerian Lingkungan Hidup bekerja sama erat dengan lembaga-lembaga terkait seperti Dinas Taman Nasional Korea dan Institut Ekologi Nasional karena kebakaran terus menyebar.