JAKARTA - Serangan rudal Rusia menghantam distrik padat penduduk di Kota Sumy, Ukraina timur laut, melukai 88 orang, termasuk 17 anak-anak, pada Hari Senin saat pembicaraan gencatan senjata digelar, kata pejabat.
Gubernur wilayah setempat Volodymyr Artiukh mengumumkan jumlah korban terbaru di televisi nasional. Ia mengatakan, lebih banyak anak yang lolos dari cedera karena mereka telah dievakuasi ke tempat perlindungan serangan udara.
"Mereka berada di daerah padat penduduk yang terkena serangan musuh," kata Artiukh kepada televisi, dilansir dari Reuters 25 Maret.
"Dua sekolah jatuh dalam zona dampak. Saya hadir ketika penyelamat kami membersihkan lokasi tempat anak-anak berada. Mereka berada di bangunan pelindung. Semua anak diselamatkan dan dievakuasi ke tempat yang aman," lanjutnya.
Beberapa blok perumahan bertingkat tinggi di pusat kota juga rusak.
Artiukh sebelumnya berbicara dalam sebuah video yang katanya direkam di tempat kejadian dengan asap hitam pekat, api dan mobil dengan jendela pecah di latar belakang. Asap juga mengepul dari lantai atas blok perumahan lima lantai di dekatnya.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pidato video malam hari menyesalkan serangan itu sebagai contoh terbaru dari "kerugian, rasa sakit dan kehancuran, sesuatu yang tidak pernah diinginkan Ukraina."
Rudal itu menghantam kota itu saat pejabat Rusia dan Amerika Serikat bertemu di Arab Saudi untuk membahas kemungkinan gencatan senjata.
Presiden Zelensky mengatakan Rusia adalah "satu-satunya entitas yang memperpanjang perang ini dan menyiksa rakyat kita dan seluruh dunia.
"Untuk memaksa Rusia berdamai, diperlukan langkah-langkah yang kuat dan tindakan tegas," katanya.
"Kami siap mendukung setiap inisiatif kuat yang membuat diplomasi lebih efektif," tandas Presiden Zelensky.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Adrii Sybiha mengatakan, Moskow berbicara tentang perdamaian "sambil melakukan serangan brutal di daerah pemukiman padat penduduk di kota-kota besar Ukraina."
BACA JUGA:
"Daripada membuat pernyataan kosong tentang perdamaian, Rusia harus berhenti mengebom kota-kota kita dan mengakhiri perangnya terhadap warga sipil," kata Sybiha.
Sedangkan pejabat Wali Kota Sumy Artem Kobzar mengatakan di Telegram, sebuah fasilitas industri diserang tetapi tidak menyebutkan namanya.
Diketahui, Sumy yang terletak sekitar 30 km (20 mil) dari perbatasan Rusia, terus-menerus diserang pesawat nirawak dan rudal dari Rusia.