Bagikan:

JAKARTA - Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memastikan tidak akan meninggalkan Jalur Gaza, meski melakukan pengurangan stafnya di wilayah kantong Palestina itu.

PBB mengatakan pada Hari Senin, mereka akan mengurangi jumlah staf internasionalnya di Jalur Gaza sekitar sepertiga, setelah serangan Israel di wilayah yang telah menewaskan ratusan warga sipil, termasuk personel PBB.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan dalam jumpa pers rutin, langkah itu diambil karena alasan keamanan dan operasional dan akan melibatkan penarikan sekitar 30 dari sekitar 100 staf internasional yang saat ini berada di Gaza.

"Yang kami lakukan adalah mengurangi jumlah anggota staf internasional sekitar sepertiga minggu ini, mungkin sedikit lebih mungkin terjadi. Ini tindakan sementara. Kami berharap orang-orang kembali ke Gaza sesegera mungkin," katanya, dikutip dari Reuters 25 Maret.

Kendati demikian, ia menekankan PBB tidak akan meninggalkan Jalur Gaza.

"Sekretaris Jenderal telah mengambil keputusan yang sulit, bahkan ketika kebutuhan kemanusiaan meningkat dan perhatian kami atas perlindungan warga sipil meningkat," katanya.

"Organisasi tetap berkomitmen untuk terus memberikan bantuan yang diandalkan warga sipil untuk kelangsungan hidup dan perlindungan mereka," tandasnya.

Dujarric mengatakan, berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, serangan yang menghantam Kompleks PBB di Deir Al Balah pada tanggal 19 Maret, menewaskan seorang pekerja PBB asal Bulgaria dan menyebabkan enam orang lainnya - dari Prancis, Moldova, Makedonia Utara, wilayah Palestina, dan Inggris Raya - mengalami luka parah, berasal dari tank Israel.

"Lokasi kompleks PBB ini diketahui oleh pihak-pihak yang berkonflik," katanya, seraya mencatat Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutteres telah menuntut "investigasi penuh, menyeluruh, dan independen."

Kementerian kesehatan Gaza mengaitkan serangan itu dengan Israel. Tetapi, Israel membantahnya, dengan mengatakan serangan itu menghantam lokasi Hamas tempat mereka mendeteksi persiapan untuk menembaki wilayah Israel.

Ketika ditanya apakah PBB yakin kompleks itu telah sengaja ditargetkan, Dujarric berkata: "Saya pikir itu salah satu alasan kita perlu melakukan investigasi yang cukup jelas dan transparan. Intinya adalah bahwa Israel tahu persis di mana fasilitas PBB ini berada, dan terkena tembakan dari salah satu tank mereka."

Militer Israel mengatakan pasukannya telah menembaki sebuah gedung milik Palang Merah di Kota Rafah, Gaza selatan, pada Hari Senin akibat kesalahan identifikasi, setelah sebuah kantor milik organisasi bantuan tersebut rusak oleh proyektil peledak.