JAKARTA - Polisi Israel mengerahkan meriam air dan menangkap sejumlah pendemo yang memprotes langkah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memecat kepala dinas intelijen.
Ribuan warga Israel bergabung dalam demonstrasi anti-Netanyahu dengan penentang langkah pemecatan kepala Shin Bet Ronen Bar bergabung dengan pengunjuk rasa yang marah atas keputusan untuk melanjutkan pertempuran di Gaza.
“Kami sangat, sangat khawatir negara kami akan menjadi negara kediktatoran," kata Rinat Hadashi, 59 tahun, di Yerusalem dilansir Reuters, Kamis, 20 Maret.
"Mereka menelantarkan sandera kami, mereka mengabaikan semua hal penting bagi negara ini,” tuturnya.
Pada Kamis, polisi dan demonstran bentrok saat ratusan orang berbaris di sepanjang jalan menuju kediaman resmi perdana menteri di Yerusalem. Puluhan pengunjuk rasa mencoba menerobos barikade keamanan.
BACA JUGA:
Demonstrasi direncanakan digelar di luar kompleks markas militer Kirya di Tel Aviv.
Sehari sebelumnya terjadi konfrontasi sengit antara pengunjuk rasa dan demonstran tandingan, yang menyoroti perpecahan yang semakin dalam sejak Netanyahu kembali berkuasa sebagai pemimpin koalisi sayap kanan pada akhir tahun 2022.
Bahkan sebelum perang di Gaza, puluhan ribu warga Israel bergabung dalam demonstrasi rutin untuk memprotes upaya pemerintah untuk mengekang kekuasaan peradilan yang oleh para kritikus dianggap sebagai serangan terhadap demokrasi Israel.
Sejak dimulainya perang, telah terjadi pula demo rutin oleh keluarga dan pendukung sandera yang ditawan oleh Hamas selama serangannya terhadap Israel dari Gaza pada tanggal 7 Oktober 2023.
Kabinet Israel diperkirakan akan bertemu pada Jumat untuk secara resmi menyetujui pemecatan Bar, yang telah berselisih dengan Netanyahu mengenai penyelidikan korupsi terhadap para pembantu di kantornya yang disebut oleh perdana menteri sebagai serangan bermotif politik.