JAKARTA - Kementerian Urusan Perempuan Palestina merilis laporan komprehensif untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, menyoroti dampak parah dan meluas dari agresi militer Israel terhadap perempuan Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza, Yerusalem dan diaspora.
Menurut laporan tersebut, agresi yang sedang berlangsung di Gaza telah menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi perempuan, dengan 12.298 perempuan kehilangan nyawa mereka akibat serangan udara dan militer Israel, dikutip dari WAFA 10 Maret.
Selain itu, 928 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, telah tewas di Tepi Barat, sejak pecahnya perang, lanjut laporan tersebut.
Lebih jauh laporan itu menyebutkan sekitar 1 juta perempuan di Gaza telah mengungsi secara paksa, dan total 1,2 juta orang, termasuk banyak perempuan dan anak-anak, telah kehilangan rumah mereka.
Pengungsian massal ini telah membuat perempuan rentan terhadap kemiskinan, kekerasan, dan kurangnya akses ke layanan dasar.
Laporan tersebut juga menyoroti krisis ekonomi yang parah, khususnya bagi perempuan di Gaza. Tingkat pengangguran di kalangan perempuan telah melonjak hingga 95 persen, dibandingkan dengan 67,6 persen sebelum perang.
Selain itu, 91 persen penduduk Gaza atau sekitar 1,84 juta orang kini menghadapi kerawanan pangan yang parah, dengan 96 persen bayi di bawah usia enam bulan menderita malnutrisi akut.
Tak hanya sampai di situ, sekitar 90 persen perempuan hamil dan menyusui di wilayah kantong Palestina itu tidak memiliki akses terhadap nutrisi yang memadai.
Penghentian sementara layanan badan bantuan PBB untuk Palestina UNRWA juga telah merampas layanan kesehatan penting bagi 41.571 perempuan Palestina.
Laporan tersebut juga mencatat 22.835 penyandang disabilitas di Gaza, termasuk banyak perempuan, tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan dan dukungan psikologis yang diperlukan.
Dampaknya terhadap anak-anak juga sama parahnya. Penutupan sekolah dan penghentian sementara layanan pendidikan UNRWA telah merampas pendidikan bagi 324.000 pelajar Palestina, termasuk 278.000 di Gaza.
Dalam hal infrastruktur fisik, laporan tersebut mencatat 87.000 unit rumah telah hancur total di Gaza, dengan 297.000 rusak sebagian. Kehancuran yang meluas telah menyebabkan ribuan wanita kehilangan tempat tinggal.
Laporan itu juga menyebutkan harga pangan di Gaza juga telah meroket hingga 309,4 persen, sehingga hampir mustahil bagi banyak keluarga untuk memenuhi kebutuhan pokok.
BACA JUGA:
Laporan tersebut juga menyoroti situasi di Tepi Barat dan Yerusalem, di mana 21,6 persen penduduk di kamp pengungsi hidup dalam kemiskinan, dengan 6 persen di antaranya dalam kemiskinan ekstrem.
Sementara itu, 41,6 persen keluarga Palestina di Yerusalem bergantung pada ekonomi Israel untuk pendapatan, membuat mereka rentan terhadap ketidakstabilan ekonomi.
Terpisah, otoritas kesehatan di Gaza pada Hari Minggu mengonfirmasi, jumlah korban tewas di kawasan tersebut sejak konflik terbaru pecah pada 7 Oktober 2023 telah mencapai 48.458 orang, sedangkan jumlah korban luka-luka mencapai 111.897 orang.