Bagikan:

JAKARTA - Sembilan warga Mesir yang dibebaskan setelah disandera selama 19 bulan oleh Pasukan Dukungan Cepat paramiliter Sudan (RSF), tiba di Mesir.

"Alhamdulillah. Era baru dimulai bagi kita hari ini. Kehidupan kita dimulai lagi dari hari ini," kata Ahmed Aziz Masry yang dikelilingi oleh puluhan orang yang datang untuk memberi selamat atas kepulangannya ke desa Abo Shanab dilansir Reuters, Jumat, 7 Maret.

Warga membanjiri jalan-jalan desa, 110 km (70 mil) di barat daya Kairo, tempat tinggal tujuh tawanan yang dibebaskan.

Sudan telah berperang sejak pertempuran pecah pada April 2023 antara tentara dan RSF karena perselisihan menjelang transisi yang direncanakan ke pemerintahan sipil.

Perang tersebut telah menyebabkan bencana kemanusiaan, dengan pengungsian massal dan kelaparan yang meluas.

Laporan PBB yang diterbitkan pada Kamis menemukan "pola penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, dan perlakuan buruk terhadap tahanan" yang meluas oleh RSF dan tentara Sudan.

Para tawanan Mesir yang dibebaskan bekerja di Khartoum selama bertahun-tahun dengan mengimpor barang-barang rumah tangga dan peralatan listrik kecil.

Salah seorang tawanan, Emad Moawad, mengatakan kepada Reuters, ia memiliki tiket pesawat untuk kembali ke Mesir setelah pertempuran dimulai, tetapi bandara ditutup.

"65 hari kemudian, RSF menggerebek rumah kami dan menahan kami selama lebih dari 19 bulan,” katanya.

Masry mengatakan RSF secara keliru menuduh mereka sebagai mata-mata untuk dinas intelijen Mesir.

"Setiap beberapa bulan, mereka akan memberi tahu kami bahwa mereka akan membebaskan kami tetapi kemudian menutup mata kami dan mengirim kami ke penjara lain," kata Masry.

Di penjara kelima, sipir memanggil Masry ke kantornya untuk menjawab panggilan telepon. Suara di ujung sana mengatakan situasinya telah terselesaikan.

"Beberapa minggu lalu, mereka membawa kami ke titik terakhir yang dikuasai RSF dan dari sana ke Angkatan Darat Sudan, yang membawa kami ke kedutaan Mesir lalu ke Kairo," ujarnya.

Perang tersebut telah melibatkan banyak kekuatan asing, dengan RSF menuduh Mesir membantu angkatan darat sementara angkatan darat menuduh Uni Emirat Arab mempersenjatai RSF.