JAKARTA - Direktur Pelayanan Perumda PAM Jaya Syahrul Hasan mengungkapkan bahwa cakupan layanan air perpipaan di Jakarta per akhir tahun 2024 mencapai 70,29 persen. Angka ini naik 3 persen dari tahun sebelumnya.
Sementara, Pemprov DKI menargetkan cakupan layanan air bersih di Jakarta bisa mencapai 100 persen pada tahun 2030. Syahrul mengaku, kenaikan 3 persen cakupan layanan termasuk progres yang signifikan.
Sebab, menurutnya, hampir tidak ada perusahaan daerah air minum (PDAM) selain Jakarta yang mampu meningkatkan cakupan layanan di atas 1 persen dalam satu tahun.
"Boleh dicek di Perumda, PDAM manapun di luar Jakarta, untuk mencapai 1 digit layanan atau 1 persen layanan dalam satu tahun, itu amat sulit. Kenapa? Karena memang butuh kerja kolosal yang luar biasa, terutama masalah permodalan pastinya," kata Syahrul dalam diskusi di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 12 Februari.
Per tahun 2021, tercatat jumlah pelanggan air perpipaan yang dilayani PAM Jaya sebanyak 958.620 sambungan rumah dengan air yang terdistribusi sebesar 20.993 liter per detik.
"Kemudian, jumlah pipa (yang sudah tersambung jaringan air bersih) sekarang adalah 12.202 kilometer, yang sebelumnya adalah kilometer. Artinya, selama 2 tahun kita mampu menambah kurang lebih 200 kilometer," urai dia.
Sementara itu, tingkat kebocoran air atau nonrevenue water (NRW) layanan air perpipaan berada di angka 45,8 persen. Air yang tak tertagih ini naik 0,02 persen dari tahun lalu. Salah satu penyebabnya adalah kondisi jaringan pipa di Jakarta banyak yang sudah tua hingga ratusan tahun. Faktor lain yang mengakibatkan NRW yakni pencurian air dari pihak tak bertanggung jawab.
"Karena kebocoran pada jaringan tersebut, maka air yang diproduksi di instalasi pengolahan air (IPA) kami, output-nya tidak sama dengan air yang dirasakan masyarakat. Kebocoran ini adalah kedala yang memang di luar dari kemampuan PAM Jaya," jelas Syahrul.
Dalam lima tahun mendatang, Pemprov DKI menargetkan pelanggan PAM Jaya mencapai 2.006.167 sambungan rumah dengan panjang pipa 19.234 kilometer. Ditargetkan juga tingkat kebocoran air menurun hingga 30 persen pada tahun 2030.
BACA JUGA:
Terkait hal ini, Nirwono menilai perluasan cakupan layanan air perpipaan di Jakarta secara kuantitas juga harus dimbangi dengan kualitas. PAM Jaya, menurut Nirwono, perlu melakukan akselarasi pengembangan layanan yang bisa meningkatkan standar air bersih perpipaan menjadi air siap minum langsung dari keran.
"Kalau kualitas dan kuantitasnya tidak tercukupi, masih sulit untuk mendorong warga berpindah ke air PAM," sambung Nirwono.
"Kalau air bersihnya sendiri juga tidak meningkat, jangan harap kualitas SDM Jakarta juga meningkat. Jadi, suka tidak suka peran air bersih bagi warga Jakarta sangat berpengaruh terhadap peningkatan peringkat kota global Jakarta. Apalagi targetnya 2030 sudah 100 persen," tambah Nirwono.
Di sisi lain, Nirwono juga berpesan agar PAM Jaya memrioritaskan penambahan sambungan air di wilayah Jakarta Utara, khususnya pesisir. Sebab, penggunaan air tanah berlebihan akan mengakibatkan penurunan muka tanah yang membahayakan masyarakat.
"Beberapa riset menunjukkan, beberapa titik yang pengambilan air tanahnya itu dikurangi, bahkan dihentikan, penurunannya itu melambat," imbuhnya.