Sepeda Nonlipat Boleh Masuk MRT Dikritik, Wagub DKI: Pengguna Tak Akan Terganggu
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (Foto: Humas DKI Jakarta)

Bagikan:

JAKARTA - Sejumlah pihak mengkritik kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang membolehkan sepeda nonlipat untuk masuk dalam kereta Moda Raya Terpadu (MRT).

Namun, Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria membela. Riza bilang, kebijakan untuk membolehkan penumpang MRT membopong sepedanya masuk ke dalam kereta Ratangga ini tidak akan mengganggu penumpang lain.

"Begini, kebijakan itu dibatasi jamnya. Tidak pada jam-jam sibuk. Pengguna MRT tidak akan terganggu, ya," kata Riza pada Kamis, 25 Maret malam.

Riza menjelaskan, pengguna sepeda non-lipat hanya boleh menggunakan MRT Jakarta di luar jam sibuk, yakni selain pukul 07.00—09.00 WIB dan 17.00—19.00 WIB. Sementara pada Sabtu dan Minggu, sepeda non-lipat diperbolehkan masuk selama jam operasional kereta.

Lalu, sepeda hanya boleh dimasukkan pada kereta nomor enam di setiap rangkaian, serta maksimal empat sepeda per keberangkatan.

Sepeda yang diperbolehkan masuk gerbong adalah sepeda reguler atau yang biasa digunakan oleh warga, dengan dimensi maksimal yang diperbolehkan, yakni 200 sentimeterx55 sentimeterx120 sentimeter, dengan lebar ban maksimal 15 sentimeter. Selain itu, sepeda tandem tidak diperbolehkan masuk.

"Insyaallah kebijakan ini memberikan dukungan pada warga, pengguna sepeda untuk dapat jadikan sepeda selain alat rekreasi, olahraga, tapi juga alat transportasi," ujar dia.

Sebelumnya, Anies Baswedan membawa sepeda lawasnya menaiki MRT saat berangkat ke Balai Kota DKI. Anggota Fraksi PDIP DPRD DKI Gilbert Simanjuntak mengkritik hal tersebut.

Menurut Gilbert, kebijakan ini tidak berpihak kepada rakyat kecil. Sebab, pedagang yang membawa pikulan jualannya saja tidak diperbolehkan masuk kereta rel listrik (KRL) karena dianggap mengganggu penumpang.

"Saya tidak melihat kebijakan ini pro rakyat karena para pesepeda yang serius bukan untuk gaya-gayaan. Pasti mereka merasa aneh naik MRT karena tujuan mereka bersepeda untuk olahraga," kata Gilbert kepada wartawan, Kamis, 25 Maret.

Gilbert meminta Anies memperhitungkan kebijakan yang diputuskan mencakup kebutuhan seluruh masyarakat, bukan hanya kepentingan sekelompok orang. "Sepeda seperti itu masuk kereta kan kesannya bukan alat transportasi lagi, tapi malah beban transportasi," tutur dia.

Sejumlah warganet juga mengkritik kebijakan sepeda boleh masuk kereta MRT dalam kolom komentar Instagram mrtjkt. Banyak warganet yang menganggap kebijakan ini mubazir dan mengganggu penumpang lain.

"Apa ga mubajir tuh tempat duduk secara dpnnya ada sepeda," kata akun oenoezreikkonen.

"Perlu dipikirkan tuh jangan sampe mengganggu penumpang yg ga bawa sepeda, krn gerbong mrt itu kan ga didesain utk bawa sepeda non lipat, gimana kalo pada bawa sepeda jengki?" ungkap akun atohertianto.

"Kok aneh kebijakannya? Yakin nih sepeda non lipat boleh masuk MRT? Okelah sekarang masih kosong. Masih memungkinkan untuk sepeda. Tapi kalau suatu saat gerbong MRT mulai penuh. Apakah peraturan ini tidak mempersulit penumpang dan pengelola MRT?" tutur akun andhika_adityas.