Bagikan:

JAKARTA - Australia dan Inggris mengatakan dalam pernyataan bersama pada Hari Jumat, ada potensi dampak buruk dari invasi darat Israel ke Rafah di Jalur Gaza, Palestina.

Pernyataan itu dikeluarkan setelah Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri Inggris bertemu dengan Menteri Pertahanan Australia di Adelaide.

"Mengingat banyaknya pengungsi yang mengungsi di wilayah tersebut dan kurangnya tempat aman di Gaza, para menteri menyampaikan keprihatinan mendalam atas potensi konsekuensi yang menghancurkan bagi penduduk sipil akibat perluasan operasi militer Israel di Rafah," kata pernyataan itu, melansir Reuters 22 Maret.

Sebelumnya, Israel mengatakan invasi darat ke Rafah diperlukan untuk melenyapkan Hamas, meskipun sejumlah negara, termasuk sekutu mereka, Amerika Serikat, memperingatkan konsekuensi yang mengerikan bagi lebih dari satu juta warga Palestina yang berlindung di sana sejak menjadi pengungsi di tempat lain di Jalur Gaza selama perang lima bulan.

Awal pekan ini, PM Benjamin Netanyahu menolak permohonan Presiden Amerika Serikat Joe Biden untuk membatalkan rencana serangan darat ke Rafah, tempat perlindungan terakhir di Gaza bagi lebih dari satu juta pengungsi, namun diyakini Israel menjadi tempat bersembunyi militan Hamas.

PM Netanyahu mengatakan kepada anggota parlemen pada Hari Selasa, dia telah menyatakan dengan "sangat jelas" kepada Presiden AS, "bahwa kami bertekad untuk menyelesaikan pemusnahan batalyon-batalyon ini di Rafah, dan tidak ada cara untuk melakukan itu kecuali dengan turun ke lapangan".

"Kami terus beroperasi di Khan Younis, di kamp-kamp pusat, untuk menyingkirkan dan menangkap para pejabat senior Hamas seperti yang baru saja kami lakukan di Rumah Sakit Shifa, sambil menyingkirkan ratusan teroris," ungkapnya.

"Seperti yang telah saya janjikan berkali-kali kepada Anda,kami bertekad untuk meraih kemenangan mutlak dan kami akan mencapainya," tandasnya.