JAKARTA - Tahanan Palestina yang dibebaskan dari Jalur Gaza mengatakan mengalami interogasi hingga siksaan yang membuat mereka luka, sakit, hingga trauma yang tidak akan terlupakan.
Sekitar 2.000 tahanan Palestina telah dibebaskan dalam beberapa minggu terakhir oleh Israel, sebagai imbalan atas pembebasan 33 sandera yang ditawan Hamas di Jalur Gaza, selain 5 sandera Thailand yang dipulangkan dalam pembebasan tak terjadwal.
Pertukaran tersebut merupakan bagian dari gencatan senjata bertahap yang menghentikan pertempuran pada 19 Januari, setelah 15 bulan perang yang telah menghancurkan daerah kantong Palestina tersebut.
Ibrahim Al Shawish (45), seorang guru dari Beit Hanoun di Gaza utara, mengatakan kepada The National, dia ditutup matanya dan dipindahkan ke sejumlah pusat penahanan yang tidak diketahui setelah penangkapannya pada Desember 2023 di sebuah sekolah Gaza.
"Mereka menelanjangi kami dalam cuaca dingin dan menginterogasi kami dalam kondisi yang tak tertahankan," katanya kepada The National seperti dikutip 7 Maret.
"Itu adalah mimpi buruk yang nyata," lanjutnya.
Lebih lanjut Al Shawish mengatakan, ia diseret dalam keadaan telanjang di atas pecahan kaca, meninggalkan tubuhnya terluka dan memar.
"Saat mereka menyeret saya, para tentara melontarkan hinaan paling keji kepada saya, kepada keluarga saya," katanya.
"Tubuh saya tercabik-cabik, tetapi mereka menolak memberikan bantuan medis apa pun. Saya menderita dalam diam saat luka-luka saya terinfeksi dan rasa sakit saya berlanjut selama berminggu-minggu," getirnya.
Dampak psikologisnya sama mengerikannya. "Mereka memberi tahu saya bahwa keluarga saya telah terbunuh di Gaza, dengan harapan dapat menghancurkan saya, menghancurkan semangat saya. Saya percaya kepada mereka, hanya untuk mengetahui, ketika saya akhirnya dibebaskan, bahwa mereka masih hidup," katanya, sambil menahan tangis.
Al Shawish menggambarkan penjara itu sebagai tempat yang dingin dan menindas, tempat martabat dasar manusia terkikis.
"Kami dibelenggu dan ditutup matanya 24 jam sehari, dilarang bergerak atau bahkan bersandar pada apa pun. Kami makan, tidur, dan buang air dalam posisi yang sama memalukannya, sepenuhnya terkekang," tuturnya.
Ia juga melihat tiga tahanan tewas, katanya kepada The National.
"Saya menyaksikan mereka mati di depan mata saya, korban penyiksaan dan pengabaian yang tak berkesudahan. Kami tidak diberi segalanya, air bersih, kenyamanan, kesopanan dasar. Kami dipaksa untuk meneriakkan dukungan kepada Israel dan mengutuk perlawanan. Itu seperti neraka yang nyata," ungkapnya.
Meskipun dibebaskan pada tanggal 8 Februari, ia mengatakan akan "membawa bekas-bekas siksaan itu selamanya".
Tahanan lain yang dibebaskan bulan lalu, Ibrahim Al Ghouti, dari Rafah, mengatakan penyiksaan di penjara telah membuatnya menderita fibrosis paru, penyakit yang menyebabkan jaringan parut di paru-paru dan membuatnya sulit bernapas. Penyakit tersebut dapat dipicu oleh paparan racun.
"Ketika mereka akhirnya membebaskan saya, saya hanyalah cangkang dari diri saya yang dulu," kata Al Ghouti (52).
"Kondisi di tahanan sangat tidak manusiawi, telanjang, ditutup matanya, dan tersesat. Saya kesulitan bernapas dan mereka tidak menawarkan bantuan apa pun. Saya dibiarkan mati, perlahan-lahan," ujarnya.
Ia akhirnya dipindahkan ke rumah sakit, namun penyiksaan tidak berhenti.
"Saya diinterogasi bahkan di rumah sakit. Para dokternya, mereka bukan dokter sungguhan. Mereka adalah tentara yang menyamar," jelasnya.
Al Ghouti mengatakan, dia ditangkap selama operasi darat Israel di Gaza pada akhir tahun 2023 dan dibebaskan pada tanggal 27 Februari tahun ini.
"Bekas luka, luka – baik fisik maupun emosional – tidak akan pernah pudar," katanya.
Sedangkan tahanan Palestina lainnya, Thabet Abu Khater, yang ditangkap pada bulan Desember 2023, mengatakan kehilangan satu kaki di penjara karena harus diamputasi akibat penyiksaan berat dan kelalaian medis.
"Itu disengaja. Pengabaian itu dimaksudkan untuk membunuh kami secara perlahan, untuk menghancurkan kami dari dalam ke luar," katanya dengan getir.
Cedera yang dideritanya di kamar mandi penjara tidak diobati, yang menyebabkan infeksi dan pembengkakan parah, katanya kepada The National.
"Saya dibiarkan menderita, tanpa kelegaan, tanpa perawatan, sampai mereka memutuskan untuk mengamputasi kaki saya," tuturnya getir.
Permohonannya untuk melakukan perawatan diabetesnya juga ditolak, menggambarkan kondisi penjara sebagai "bencana besar – di luar jangkauan pikiran manusia mana pun".
"Saya bersyukur kepada Tuhan karena saya bebas. Namun, tubuh dan jiwa saya menanggung beban siksaan yang saya alami," katanya.
"Bekas lukanya bukan hanya fisik, kini bekas luka itu menjadi bagian dari diri saya," tutupnya.
BACA JUGA:
Diketahui, kelompok hak asasi manusia telah lama menuduh Israel menyiksa tahanan dan narapidana di penjara-penjaranya. Dalam sebuah laporan pada bulan November 2023, Amnesty International mendokumentasikan narapidana ditelanjangi dan dipukuli.
PBB telah mengumpulkan kesaksian serupa, dengan Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk mengatakan Juli lalu, bukti menunjukkan otoritas Israel mungkin telah melakukan "tindakan mengerikan" terhadap tahanan, termasuk "waterboarding dan pelepasan anjing".
Israel membantah tuduhan tersebut, bersikeras perlakuannya terhadap tahanan Palestina mematuhi hukum internasional.
Tentara Israel tidak segera menanggapi pertanyaan The National mengenai klaim yang dibuat oleh para tahanan dalam berita ini.