Viral Motor Suzuki A100 Pengantar Pizza Hut Tahun 1984, Sekarang Jualan di Pinggir Jalan karena Pandemi
Motor pengantar Pizza Hut tahun 1984. (Foto: Twitter @mazzini_gsp)

Bagikan:

JAKARTA - Media sosial Twitter dihebohkan dengan foto motor pengantar Pizza Hut tahun 1984. Motor Suzuki A100 yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan kurir mencuri perhatian. Namun, ada juga warganet yang membandingkannya dengan kondisi Pizza Hut saat ini yang berjualan di jalan.

Foto pengantar Pizza Hut itu diunggah oleh akun bernama Mazzini @mazzini_gsp. Unggahan tersebut di-retweet oleh sekitar 562 akun, dan di-likes 2.179 akun Twitter.

"Pizza Hut now :'(," tulis akun bernama @gilangnyampes, disertai dengan gambar pegawai Pizza Hut tengah menawarkan produknya disertai banner bertuliskan 'Rp100.000 dapat empat pizza rasa baru', dikutip VOI, Kamis, 11 Februari.

Salah satu akun dengan nama Dharmadi @popokbekas menanggapinya. Ia mengatakan, di Bandung pun terjadi hal yang sama. Dia berharap Pizza Hut tetap bisa bertahan.

"Di Bandung udah beda, 100rb dapat 5. Semoga @pizzahut bisa bertahan," tulisnya.

Seperti diketahui, pada tahun 1984 Pizza Hut membuka restoran pertamanya di Indonesia yang bertempat di pusat perbelanjaan Sarinah Jakarta. Pada masa itu hanya kaum borjuis saja yang bisa membeli dan merasakan kelezatan dari makanan asal Italia tersebut.

Pada tahun 1984 sistem delivery Pizza Hut tak banyak peminatnya, karena tidak semua masyarakat pada zaman tersebut bisa menikmatinya. Namun, saat ini bisa dengan sangat mudah mendapatkan sajian dari Pizza Hut, apalagi pengelola waralaba Pizza Hut di Indonesia, PT Sarimelati Kencana Tbk justru semakin memasifkan diri untuk berjualan di pinggir-pinggir jalan.

Perubahan strategi bisnis ini disebabkan oleh pandemi COVID-19. Pandemi yang berlangsung sejak tahun lalu membuat beberapa perusahaan kalang kabut karena pemasukannya jauh menyusut. Hal itu juga dialami perusahaan dengan kode saham PZZA.

Beberapa bulan lalu di media sosial Twitter, ada unggahan video yang memperlihatkan seorang pegawai Pizza Hut sedang menunggu konsumennya di pinggir jalan. Unggahan tersebut di-retweet oleh sekitar 6.300 akun, dan di-reply 1.200 kali.

Tak sedikit yang me-reply unggahan tersebut dengan nada empati dan berharap Pizza Hut tetap beroperasi meski memang harus berjualan hingga di pinggir jalan. Namun diketahui, dari sebelum pandemi COVID-19 melanda, Pizza Hut memang kerap menjajakan dagangannya di luar toko, contohnya seperti pada kegiatan Car Free Day (CFD) di beberapa daerah.

Berjualan di pinggir jalan menjadi cara perusahaan memperluas pasar sekaligus mengupayakan agar dapur mereka tetap ngebul. Dan saat pandemi COVID-19 di mana ada kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan Pizza Hut menutup gerainya, perusahaan pun semakin sering mencari spot-spot untuk menjajakan produk buatannya di pinggir-pinggir jalan.

Ternyata, perusahaan menyeriusi berjualan di pinggir jalan ini menjadi peluang bisnis di masa depan. Dikutip dari keterbukaan informasi Sarimelati Kencana di laman Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diunggah pada Rabu 14 Oktober 2020 lalu, manajemen perusahaan mengumumkan hal tersebut.

Di situ disebutkan, guna meningkatkan kinerja sebagai perusahan yang bergerak di bidang usaha restoran, katering, pergudangan, distribusi dan industri pembuatan makanan, Sarimelati Kencana melihat adanya peluang usaha pada usaha penyediaan makanan keliling.

Harga sajian Pizza Hut

Kegiatan usaha tersebut saat ini bukan merupakan salah satu dari bidang usaha perseroan. Berdasarkan perhitungan dengan seksama atas peluang usaha dan jasa yang dapat dijalankan secara berkelanjutan, perseroan berkeyakinan mampu memanfaatkan peluang yang ada, guna memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

Karena itu, perseroan berencana akan melakukan penambahan kegiatan usaha berupa restoran dan penyediaan makanan keliling lainnya dengan menggunakan fasilitas food truck.

Kebutuhan biaya investasi untuk ekspansi ini adalah sebesar Rp750 juta. Pemenuhan pendanaan untuk rencana usaha penyediaan makanan keliling tersebut akan berasal dari modal sendiri.

Kegiatan operasional jualan melalui food truck ini diagendakan dimulai pada awal tahun 2021 ini dengan 365/366 hari operasional. Kapasitas terpasang adalah target volume penjualan pizza yang dapat terjual dalam 1 hari yaitu sebanyak 200 pcs/hari atau 73.000 sampai dengan 73.200 pcs/tahun.

Utilisasi penjualan diasumsikan sebesar 60 persen di tahun operasional pertama (2021), 75 persen di tahun operasional kedua (2022), dan sebesar 90 persen di tahun operasional selanjutnya (2023 dan seterusnya).

Sementara, harga pizza setelah pajak, diasumsikan sebesar Rp25.000/pcs. Kemudian, harga tersebut diasumsikan mengalami peningkatan sebesar 3,23 persen sampai dengan 4 persen per tahunnya.

Berdasarkan proyeksi rasio keuangan restoran dan penyediaan makanan keliling, Sarimelati Kencana menargetkan rata-rata margin laba bersih akan meningkat 8,92 persen dalam tujuh tahun ke depan.