Bagikan:

JAKARTA - Angka kematian akibat COVID-19 bisa menjadi lebih buruk, jika varian Omicron adalah jenis virus corona pertama yang muncul di Wuhan, China, menurut seorang ahli imunologi terkemuka.

Sir John Bell, profesor regius kedokteran di University of Oxford, Inggris mengatakan, dampak pandemi "bisa saja jauh lebih buruk" dengan varian yang sangat menular.

Dia berbicara setelah komentar dari mantan ilmuwan Pemerintah China Prof. George Gao, yang mengatakan kemungkinan virus corona bocor dari laboratorium tidak boleh dikesampingkan.

Berbicara dalam program 'Today' di BBC Radio 4, Sir John mengatakan dia tidak berpikir bukti apakah virus itu muncul dari laboratorium, atau secara alamiah, juga belum pasti.

"Saya akan mengatakan kepada Anda bahwa sebenarnya tidak ada bedanya," katanya, seperti melansir The National News 30 Mei

"Kita tahu secara historis, kita mendapatkan patogen yang berasal dari dunia hewan yang masuk ke manusia yang menyebabkan wabah semacam ini," terangnya.

"Dan kita juga tahu, laboratorium yang merawat virus-virus yang sangat patogen ini mengalami kebocoran," tandasnya.

Lebih lanjut dikatakan olehnya, bagaimana dunia merespons untuk bersiap menghadapi pandemi lain adalah yang paling penting.

Sir John mengatakan, dia baru-baru ini mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh Prof Gao, di mana pemodelan COVID oleh sebuah perusahaan bernama Airfinity dibahas.

"Mereka melakukan pemodelan dengan gagasan, jika virus pertama yang muncul di Wuhan bukanlah jenis Wuhan, tetapi jenis Omicron, yang kita semua tahu jauh lebih menular," jelasnya.

"Dan itu menyerang populasi yang secara imunologis naif, dengan kata lain populasi yang belum pernah melihat virus sebelumnya," lanjut Sir John.

"Puncak kematian di Inggris akan menjadi sekitar lima kali lipat dari yang terjadi pada jenis Wuhan. Ingatlah, saat itu adalah masa-masa yang cukup kelam selama Bulan April dan Mei 2020 dan saya rasa kita tidak menginginkan lima kali lipat jumlah orang yang meninggal," paparnya.

"Dan seandainya itu adalah flu burung, maka jumlahnya bisa mencapai 15 kali lipat (lebih tinggi). Jadi saya pikir, ketika kita mendengar bahwa akan ada pandemi besar, jika salah satu dari kedua hal tersebut terjadi, maka akan jauh lebih buruk daripada yang kita lihat," tandas Sir John.

Terpisah, dalam sebuah wawancara dengan BBC, Prof Gao mengatakan pada podcast Radio 4 bertajuk 'Fever: The Hunt for Covid's Origin': "Anda selalu bisa mencurigai apa pun. Itulah ilmu pengetahuan. Jangan mengesampingkan apa pun."

Prof Gao sekarang menjabat sebagai Wakil Presiden Yayasan Ilmu Pengetahuan Alam Nasional China setelah pensiun tahun lalu dari CDC, di mana ia memainkan peran kunci dalam respons pandemi dan upaya untuk melacak bagaimana pandemi ini dimulai.

Diketahui, teori bahwa COVID-19 bocor secara tidak sengaja dari laboratorium China muncul kembali pada Bulan Februari, ketika Direktur FBI Christopher Wray mengatakan dari sinilah virus tersebut "kemungkinan besar" berasal, meskipun tidak ada konsensus di antara badan-badan intelijen AS tentang masalah ini.