Dies Natalis UNJ ke-59: Kenangan Prof. Dr. James Tangkudung Tentang Reformasi 1998
Prof. Dr. James Tangkudung saat Dies Natalis ke-59 Universitas Negeri Jakarta pada 18 Mei 2023. (VOI/Rizky Sulistio)

Bagikan:

JAKARTA - Salah satu guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), James Tangkudung menyebutkan, pada peristiwa reformasi 1998 silam, dirinya ketika masih menjadi mahasiswa pasca sarjana IKIP Jakarta turut berperan dalam aksi turun ke jalan pada era reformasi. Hal itu disampaikan ketika kegiatan Dies Natalis ke-59 UNJ.

Bahkan pada masa itu, dia datang dengan mengendarai mobil ambulan yang berisi makanan dan spanduk yang tertulis "Milenia Baru, Presiden Baru'. Ketika James sampai di gedung parlemen tersebut, belum ada mahasiswa lain yang berhasil masuk selain dirinya.

"Di dalam ambulans itu banyak makanan dari restoran padang dan spanduk yang kami pasang saat itu tertulis 'Milenia Baru, Presiden Baru'," kata James saat dikonfirmasi, Kamis, 18 Mei.

Dalam keterangannya, saat peristiwa reformasi 1998 itu bergelora, dirinya juga telah mempersiapkan dan membawa spanduk yang tertulis "Milenia Baru, Presiden Baru". Spanduk tersebut sengaja dibuat dirinya di kawasan Pramuka, Jakarta.

"Jadi waktu bulan Mei, saya (sebagai) ketua forum komunikasi mahasiswa pasca sarjana se-Jakarta, pada waktu itu saya dari IKIP Jakarta. Kita mendengar bahwa teman - teman BEM S1 sudah siap mau demonstrasi tentang penembakan yang terjadi, (sebagai bentuk) protes lah. Kami bergerak," ujarnya.

James mengatakan, pada masa itu, mahasiswa IKIP Jakarta datang membawa spanduk hitam dan memasang di tebing gedung DPR RI.

"Spanduk itu dibawa menggunakan ambulans yang juga membawa makanan nasi padang," ucapnya.

Setelah tiba, James dan mahasiswa IKIP lainnya langsung mendatangi gedung parlemen itu. Mereka pun berhadapan langsung dengan aparat keamanan.

"Sampai di sana, saya (sebagai) ketua forum ditodong (senapan), saya (berada) di depan. Saya ditodong 2 bayonet, sebelah kiri dan kanan," kenangnya.

Situasi pada saat pergerakan reformasi tersebut sangat mencekam. Saat itu, James melihat mahasiswa IKIP Jakarta dipopor (senjata) masuk ke dalam saluran air.

"Saya kan harus bergerak untuk protes, karena yang lain ditembak dan pembakaran dimana-mana. Sebagai ketua kita jalan lah ke sana. Kemudian saya maju, (justru) ditekan 2 bayonet oleh tentara. Bayonet itu di kiri dan kanan, saya bergerak tidak bisa," ujarnya.

Hingga akhirnya, kelompok mahasiswa IKIP Jakarta yang dipimpin James berhasil menerobos gedung parlemen itu. Dia mengatakan bahwa dirinya orang pertama yang terlebih dulu masuk dengan membawa spanduk.

James yang merupakan salah satu reformator itu pun berpesan kepada mahasiswa di era milenial saat ini untuk terus berbuat baik dan menerapkan kejujuran.

"Saya menerapkan kepada mahasiswa saya untuk jalan lurus. Jadi generasi muda ini, generasi milenial. Negara kita kaya, negara kita ini aman, tolong dimajukan. Kan target kita tahun 2045 mencapai adil dan makmur. Untuk mencapai target ini, kita harus berjuang. Saya sebagai guru besar, saya mau para mahasiswa menjaga kedamaian dan kesatuan NKRI guna mencapai target adil dan makmur," katanya.