BKSDA Kalteng Lepasliarkan 4 Orang Utan di Taman Nasional Bukit Baka
Proses pelepasliaran orangtan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) (ANTARA)

Bagikan:

KALTENG - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah (Kalteng) melepasliarkan empat orang utan ke kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR). Pelepasliarkan ini juga diikuti Balai TNBBBR dan Yayasan Borneo Orang utan Survival (BOS).

"Empat orang utan itu hasil proses rahabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orang utan Nyaru Menteng. Terdiri dari dua betina dan dua jantan," kata Kepala BKSDA Kalteng Nur Patria Kurniawan di Palangka Raya, Rabu 18 Mei.

Dia mengatakan, upaya pelestarian ini harus didukung semua orang. BKSDA Kalteng bertanggungjawab dalam setiap upaya penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran orang utan yang sistematis.

"Kami menghimbau peran serta masyarakat untuk terlibat aktif melindungi orang utan dan habitatnya. Orang utan memiliki peran yang sangat penting, dan fungsi ini akan maksimal jika mereka tinggal di hutan," ujarnya mengutip Antara.

Kepala TNBBBR Sadtata Nooradirahmanta menambahkan, pemanfaatan Daerah Aliran Sungai (DAS) Hiran untuk pelepasliaran orang utan sejak 2019 merupakan upaya menjaga sebaran orang utan rehabilitasi. Tercatat empat kelahiran alami di TNBBBR sejak 2016 atau sejak pelepasliaran orang utan pertama kali dilakukan.

Dia mengatakan, Balai TNBBBR bersama BKSDA Kalteng dan bekerjasama dengan Yayasan BOS serta para pihak lainnya, telah melepasliarkan 186 orang utan sejak tahun 2016.

"Bersama dengan para pemangku kepentingan, kami akan terus berupaya menjaga keberadaan orang utan Kalimantan, yang memiliki peran sangat penting dalam menjaga kualitas hutan dan keutuhan ekosistem," katanya.

Keempat orang utan yang dilepasliarkan hari ini telah menjalani tahapan akhir dari proses rehabilitasi di pulau pra-pelepasliaran di gugusan Pulau Salat, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng

Pulau pra-pelepasliaran ini adalah habitat semi liar untuk menampung orang utan yang telah menyelesaikan tahap rehabilitasi di Sekolah Hutan. Di sini, para orang utan mempraktikkan semua keterampilan yang dipelajari sebelumnya untuk bekal menyintas di alam liar.

Ketua yayasan BOS Jamartin Sihite mengatakan pihaknya gembira dapat kembali melepasliarkan orang utan yang telah melewati masa rehabilitasi panjang serta siap hidup di hutan sekaligus memperingati hari Kebangkitan Nasional dan Hari Keanekaragaman Hayati.

"Di hari peringatan Kebangkitan Nasional dan Keanekaragaman Hayati ini, mari kita berkomitmen untuk mengatasi banyak ancaman yang dihadapi satwa liar dengan memanfaatkan sumberdaya alam secara berkelanjutan," tandasnya.