Bagikan:

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di zona negatif sepanjang tahun 2020. Sedangkan, pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi atau minus 5,3 persen.

"Proyeksi kami minus 1,1 hingga 0,2 persen. Kuartal III mungkin masih mengalami negative growth dan kuartal IV kemungkinan masih sedikit di bawah netral," ucapnya, dalam rapat bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rabu, 2 September.

Dalam ilmu ekonomi, suatu negara bisa disebut mengalami resesi jika ekonominya minus dalam dua kuartal berturut-turut. Penentu Indonesia masuk atau tidak dalam jurang resesi ada di kuartal III tahun ini. Jika prediksi Sri Mulyani terjadi, maka Indonesia resmi resesi menyusul Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat.

Sri Mulyani menyampaikan, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 mendatang berada di kisaran 4,5 persen hingga 5,5 persen. Menurut dia, dengan kontraksi yang cukup dalam pada kuartal II, maka pada semester I 2021, proses pemulihan tidak akan terjadi secara penuh. Sebab, pengaruh pandemi COVID-19 belum akan sepenuhnya hilang. 

"Pemulihan ekonomi di kisaran 4,5 persen hingga 5,5 persen, seperti disampaikan untuk semester I meski telah kontraksi dalam di kuartal II, namun pemulihan tidak akan terjadi dengan strong atau full power," jelasnya.

Bendahara negara ini mengatakan, di tahun 2021 COVID-19 masih sangat berpengaruh dan menjadi salah satu faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi mulai dari pemulihan konsumsi, investasi, dan pemulihan perekonomian global.

Meski begitu, Sri Mulyani berharap, terjadinya rebound baru muncul di semester II tahun 2021. Salah satu yang menjadi pendorong pemulihan ekonomi pada semester II adalah penemuan dan distribusi vaksin, serta kembalinya kepercayaan masyarakat untuk beraktivitas secara normal.

"Kita tergantung pada pemulihan semester II 2021. Semua prediksi mengenai vaksin, ditemukan divaksinasi meluas pada semester II," ucapnya.

Sependapat, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, secara keseluruhan untuk tahun 2021 pihaknya berpandangan kisaran asumsi pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi dalam penyusunan rancangan anggaran pendapatan dan belanja nasional (RAPBN) 2021 sekitar 4,8 sampai 5,8 persen.

"Yang disampaikan oleh Ibu Menteri Keuangan sekitar 4,5 sampai 5,5 persen tadi cukup realistis dan juga sejalan dengan perkiraan kami di Bank Indonesia untuk tahun 2021 kami memperkirakan kisaran nya 4,8 persen sampai 5,8 persen," ujar Perry.