Kemenkes Catat Kasus Kematian Pertama Akibat Omicron, Dinkes DKI: Jangan Anggap Enteng
Ilustrasi-(Foto: DOK ANTARA)

Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat dua kasus COVID-19 varian B.1.1.529 atau Omicron meninggal dunia. Kematian kasus Omicron di Indonesia merupakan yang pertama kali terjadi.
 
Atas hal ini, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan DKI Dwi Oktavia mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan penyebaran Omicron.
 
Meskipun, kata dia, rata-rata kasus Omicron yang ada saat ini memiliki gejala ringan dan tanpa gejala (OTG). Namun, kondisi ini bisa menjadi parah pada kelompok rentan seperti pengidap komorbid atau penyakit bawaan.
 
"Adanya kasus meninggal pada COVID-19 dengan varian Omicron menunjukkan kita tidak boleh menganggap enteng Omicron, apalagi pada kelompok rentan," kata Dwi saat dihubungi, Senin, 24 Januari.
 
Karenanya, Dwi meminta masyarakat untuk terus mendisiplinkan penerapan protokol kesehatan. Warga juga diminta untuk melakukan vaksinasi bagi yang belum.
 
"Untuk yang belum vaksin segera vaksin. Lalu, segera vaksinasi booster (dosis ketiga) untuk yang sudah berhak. Kalau ada keluhan, maka segera periksa dan lakukan swab. Jika menderita COVID-19, isolasi dengan baik dan patuh," ucap dia.
 
Diketahui, kasus COVID-19 varian Omicron yang meninggal di antaranya merupakan satu kasus transmisi lokal dan satu kasus pelaku perjalanan luar negeri (PPLN). Keduanya meninggal saat perawatan di rumah sakit.
 

 
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menuturkan, kedua kasus Omicron yang meninggal merupakan pengidap komorbid atau memiliki penyakit bawaan.
 
"Saat terkonfirmasi positif, kedua kasus Omicron tersebut mengalami gejala berat dan sesak," ucap Nadia.
 
Di Jakarta, per tanggal 23 Januari telah tercatat 1.313 kasus Omicron. Dari yang terinfeksi, sebanyak 854 orang adalah pelaku perjalanan luar negeri, sedangkan 459 lainnya adalah transmisi lokal.
 
Kasus aktif COVID-19 di Ibu Kota saat ini sebanyak 7.166 orang dengan 79 persen merupakan transmisi lokal dan 21 persen pelaku perjalanan luar negeri. Positivity rate atau persentase kasus positif sepekan terakhir di Jakarta sebesar 6,6 persen.