Curahan Hati Keylor Navas yang Dibuang Real Madrid

Curahan Hati Keylor Navas yang Dibuang Real Madrid

Keylor Navas (Twitter @PSG_English)

Bagikan:

JAKARTA - Penjaga gawang Keylor Navas mengaku tidak mengerti tentang peristiwa yang menyebabkan dirinya keluar dari Real Madrid musim panas ini. Pemain asal Kosta Rika itu bergabung dengan Paris Saint-Germain dari Madrid setelah membantu 'Los Blancos' mengangkat tiga gelar Liga Champions.

Navas menjadi kiper reguler untuk 'Los Blancos' selama tiga musim sebelum raksasa Spanyol mendaratkan kiper Thibaut Courtois dari Chelsea. Kiper Belgia mendorong Navas - yang pindah ke Santiago Bernabeu dari Levante pada 2014 - keluar dari tempat nomor satu Madrid untuk hengkang ke juara Ligue 1 PSG.

Pemain 32 tahun ini sekarang menjelaskan, dia tidak mengerti mengapa Madrid ingin menyingkirkannya atau mengapa hubungannya dengan klub memburuk selama dua belas bulan terakhir.

"Dengan Zidane, saya memiliki pengalaman yang baik, dia membela saya berkali-kali dan saya berterima kasih kepadanya atas kepercayaannya pada saya," kata Navas kepada El Chiringuito TV. Melansir Football Espana, Kamis, 5 Desember.

“Lalu ada hal-hal yang terjadi, dan saya tidak tahu mengapa itu terjadi, tetapi itu terjadi. Saya tidak berpikir bahwa seseorang mengecewakan saya, saya rasa mereka pikir itu bukan waktu saya untuk berada di Madrid. Dan kemudian datanglah sebuah tim yang memberi tahu saya bahwa mereka memercayai saya dan menginginkan saya," jelas Navas.

Sekembalinya ke Bernabeu saat PSG bertandang di matchday 5 Liga Champions, sambung Navas, dia masuk ke ruang ganti tim tuan rumah. Di sana, orang-orang menyambutnya dengan nyanyian.

“Saya membuat kesalahan di masa lalu dan orang-orang selalu mendukung saya. Saya selalu ingat perayaan gelar-gelar kami, ketika kami keluar (dari lorong ruang ganti) satu per satu, cinta yang ditunjukkan para penggemar kepada saya sangat luar biasa," kata Navas.

“Saya selalu berpikir tentang 'apa yang akan saya lakukan ketika saya dikontrak oleh tim besar?' Apakah saya akan melompat, menangis atau berteriak, saya selalu memikirkan masa depan. Saya ingin melakukan semuanya pada saat yang bersamaan.”