Industri Film Korea Utara yang Dibangun dari Propaganda dan Penculikan Sutradara Korea Selatan Shin Sang-ok
Ilustrasi (Ilham Amin/VOI)

Bagikan:

Kita telah mendalami bagaimana pandemi mendorong banyak orang untuk nonton drama korea lewat "Selamat Datang bagi Anda Para Penonton Baru Drakor Angkatan Pandemi". Pandemi juga membawa banyak orang mendalami industri audiovisual di Korea Selatan. Bagian dari Tulisan Seri khas VOI, "Invasi Drama Korea". Sekarang waktunya kita menengok ke sebelah, bagaimana industri audiovisual di Korea Utara? Seperti apa gairah perfilman Korea Utara yang konon penuh propaganda dan mengandung kisah penculikan seorang sutradara Korea Selatan, Shin Sang-ok di dalamnya?

 

Fakta Korea Utara merupakan negara paling tertutup di dunia barangkali sudah jelas. Namun, bagaimana urusan filmnya? Tak banyak yang tahu seperti apa film-film asal negeri totalitarian ini. Padahal, Korea Utara sejatinya juga memiliki hasrat pada film modern. Saking besarnya hasrat, Korea Utara pernah terlibat dalam penculikan sutradara Korea Selatan bernama Shin Sang-ok. Shin diculik untuk membantu Korea Utara mengembangkan produksi film mereka. Seluruh kisahnya akan kita bahas dalam artikel ini, termasuk kentalnya propaganda dalam film Korea Utara.

Sepanjang tahun 2000-an, Korea Utara sempat secara rutin menggelar sebuah festival film bertajuk Udine Far Easet Film Festival. Festival itu diisi oleh pemutaran film-film Korea Utara. Beberapa judul yang diputar, di antaranya film rilisan 1987, A Broad Bellflower dan Myself in the Distant Future (1997).

Seperti diulas SCMP, kedua film itu dianggap bertujuan mempropaganda warga Korea Utara agar mengubah pola makan mereka. Hal ini disebut sebagai respons atas ancaman kelaparan yang dapat meruntuhkan sebuah negara. Selain itu, kedua judul itu dianggap propaganda yang bertujuan mendorong warga Korea Utara untuk bekerja keras mengembangkan bahan bakar traktor jenis baru.

Dan tentu saja, ujung-ujungnya, film itu memerintahkan penonton untuk tunduk dan memuji pemimpin besar pertama, Kim Il-sung dan putranya Kim Jong-il. Drama Myself in the Distant Future yang disutradai oleh Jang In-hak adalah salah satu film jenis propaganda langsung.

Gambar bergerak itu bercerita tentang seorang pria muda dari Pyongyang yang jatuh cinta kepada seorang pemimpin proyek yang sibuk membangun desa mereka. Pria ini mencoba mengambil hatinya dengan menjadi pekerja teladan dan berharap bisa membawa gadis ini kembali ke Pyongyang bersamanya. Namun perempuan tersebut tidak mau.

Moral ceritanya adalah seseorang harus mencintai tanah kelahirannya, meski kehidupan di sana dirasa kurang menyenangkan. Film ini dibuat pada saat pemerintah Korea Utara berusaha mencegah gelombang urbanisasi. Meskipun seorang tokoh wanita itu mengatakan setiap gadis ingin pergi ke Pyongyang, namun ia tetap memilih tinggal di desa tersebut. Dan perempuan ini tetap menekuni pekerjaannya membangun desa yang miskin. 

Film ini juga mengandung pesan lain untuk menggambarkan betapa berlimpahnya makanan di Korea Utara. Hal itu tergambar dalam adegan petani yang tengah memanen jagung dengan hasil berlimpah. Di sekelilingnya, tampak setiap orang membawa tas berisi penuh dengan apel matang.

Drama lain yang cukup terkenal dari Korea Utara berjudul Hong Kil Dong, dibuat tahun 1986. Drama ini mirip kisah Robin Hood. Namun, versi Korea Utara. Tokoh utamanya bernama Hong, seorang bangsawan yang memulai penyerangan terhadap pemilik tanah yang rakus dan seorang penimbun beras. Namun, ketika ada sekelompok ninja dari Jepang yang menginvasi negara mereka, Hong berubah menjadi seorang nasionalis dan bekerja sama dengan musuh-musuhnya untuk memerangi invasi Jepang.

Kita masih bisa menyebutkan banyak judul film Korea Utara lain yang turut mengundang perhatian banyak orang. Misalnya, Ten Zan: The Ultimate Mission. Film ini hadir dalam genre aksi nan futuristik. Atau The Flower Girl, film yang ditulis langsung oleh Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-il. Adapun karya paling penting dalam sejarah film Korea Utara adalah Pulgasari. Film ini bahkan disebut-sebut sebagai cetak biru film modern Korea Utara. Pulgasari kerap disebut 'Godzilla-nya' Korea Utara. 

Sementara, film Korea Utara pertama lahir pada 1494, hanya berjarak satu tahun setelah Republik Rakyat Demokratik Korea berdiri. Judul film tersebut adalah My Home Village yang disutradarai Kang Hong-sik. Film itu menceritakan keputusasaan tanah Korea yang miskin dan penuh eksploitasi besar-besaran oleh tuan tanah sampai akhir penjajahan Jepang (1910-1945).

Film Korut terbaik lahir dari orang Korsel

Bagaimanapun penilaian orang terhadap film Korea Utara dan propagandanya, yang jelas, negeri itu dipimpin oleh seorang penggemar film. Kim Jong-il disebut-sebut memiliki perhatian khusus dalam pengembangan film Korea Utara. Lagipula, bukankah propaganda telah lama jadi bagian dari film itu sendiri?

Perhatian Kim Jong-il terhadap film dapat dilihat sejak pemerintahannya. Sepanjang masa pemerintahannya, Kim Jong-il memastikan industri film Korea Utara tak kekurangan dana selama 1970-1980-an. Namun, belakangan ia tidak puas dengan kualitas film yang dibuat bangsanya.

Bahkan, saking berambisinya, Kim Jong-il sampai memerintahkan menculik seorang sutradara kaliber internasional yang berasal dari Korea Selatan, Shin Sang-ok pada 1978. Mantan istri Shin, akrtis Choi Eun-hee juga diculik. Selama penyekapan, mereka diperintahkan untuk membuat film pesanan rezim.

Shin Sang-ok (Wikimedia Commons)

 

Penulis buku North Korean Cinema: A History (2012), Johannes Schonherr menjelaskan, Shin adalah seorang sutradara sekaligus produser yang telah membuat 74 film selama 52 tahun masa keaktifannya. Shin, kata Schonherr merupakan sutradara bertaraf internasional yang telah berkolaborasi dengan sineas dari banyak negara, seperti Amerika Serikat, Hong Kong, Jepang, termasuk di negeri kelahirannya sendiri, Korea Selatan.

Keahlian Shin sangat memungkinkan untuk membuat film dengan nilai hiburan dan produksi yang baik di Korea Utara. "Shin dapat menggunakan formula kuno propaganda Korea Utara dan mengubahnya menjadi film yang hebat," kata Schonherr, dikutip BBC

Berhasil, memang. Shin sukses mengubah kualitas perfilman Korea Utara. Film-film Korea Utara menjadi lebih baik di bawah naungannya. Salah satu film popular garapan Shin adalah Runaway, sebuah film aksi yang berakhir dengan ledakan kereta api. Selain Runaway, Pulgasari, sebuah film monster Korea Utara --sudah dijelaskan sebelumnya-- juga merupakan karya Shin.

Kendati diculik pada 1978, Shin baru memulai produksi filmnya dari 1983 sampai 1986. Dalam rentang waktu singkat tersebut, ia mengarahkan tujuh film dan mengawasi 13 produksi film lainnya.

Dalam tulisannya yang lain, The North Korean Films of Shin Sang-ok, Schonherr memaparkan bahwa ada banyak spekulasi tentang bagaimana ia akhirnya bisa diculik ke Korea Utara. Hal itu sama misteriusnya saat ia mendadak membelot dan kabur dari Korea Utara dalam perjalanan bisnis ke Wina pada 1986.

Schonherr menjelaskan, pengakuan Shin yang mengatakan dirinya telah membelot setelah diculik dan dipaksa membuat film banyak diragukan. Pasalnya, tanpa ada cerita penculikan, jangankan untuk membuat film di Korea Selatan, untuk kembali menginjakkan kakinya di sana pun ia tak akan diizinkan. Ia malah akan dihukum oleh rezim Korea Selatan saat itu karena telah membantu musuh mereka.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tentang penculikan Shin, yang pasti ia telah melahirkan beberapa karya terbaiknya di sana. "Ia memperkenalkan banyak konsep dan ide-ide baru kepada industri film Korea Utara. Dan ia berhasil menyelesaikan banyak tantangan," kata Schonherr.

 

Ikuti Tulisan Seri edisi ini: Mendalami Invasi Drama Korea: Dukungan Pemerintah dan Strategi Pelaku Industri