Nasib Musisi Kala Batal Mentas

Nasib Musisi Kala Batal Mentas

Ilustrasi foto (StockSnap/Pixabay)

Bagikan:

Dalam artikel "Perjalanan Gelaran Konser Musik di Indonesia" kita telah menarik memori masa lalu tentang gelaran musik di Indonesia . Melanjutkan Tulisan Seri khas VOI, "Mengusik Gelaran Musik", kita kembali pada perkara banyaknya gelaran musik di dalam negeri yang kedodoran. Bagaimana nasib para penampil ketika petaka macam Lokatara Fest 2019, Jakarta Rock Space, hingga konser ulang tahun GIGI terjadi?

 

Rocky Antono hampir berangkat ke Livespace SCBD Lot 8, Jakarta Selatan untuk mengecek arena penyelenggaraan Jakarta Rock Space. Sebagai manajer God Bless ia menghubungi penyelenggara. Jawaban dari balik telepon cukup tak terduga. Hari itu Rocky mengetahui bahwa pesta distorsi yang seharusnya mempertemukan God Bless dengan Edane, NTRL, hingga Jamrud itu batal.

Kaget, jelas. Apalagi hari itu penyelenggara tak dapat menjelaskan penyebab batalnya acara. "Mau cek venue H-2, terus nelepon panitia. Tiba-tiba dapat kabar acara dibatalin. Kendala utamanya mereka tidak mau bilang," kata Rocky saat dihubungi VOI, Rabu, 27 November.

Meski begitu, God Bless dan penyelenggara memilih jalur santai. Kedua pihak hingga hari ini masih menjalin komunikasi untuk mencari solusi terbaik. Penyelenggara telah berjanji untuk melunasi pembayaran sesuai dengan klausul-klausul yang disepakati dalam kontrak kerja sama.

"Band -band lain sepertinya sudah ada yang dilunasi. Tapi, mereka berjanji kepada kami akan melunasi juga. Dan sampai sekarang kami masih terus berkomunikasi. Kami rasa mereka serius sebenarnya menggarap event ini, tapi mungkin karena pemain baru, jadi kurang mengusai medan," tutur Rocky.

Kala ditanya soal kerugian yang dialami God Bless akibat pembatalan ini, Rocky menyebut pihaknya tidak mengalami kerugian berarti. Keadaan sejatinya cukup aman --jika tak ingin disebut menguntungkan-- bagi kedua pihak. Sebab, God Bless pun kebetulan sedang tak ada tawaran main lain di tanggal 30 Oktober, hari Jakarta Rock Space diselenggarakan.

Sebelum Jakarta Rock Space, konser ulang tahun GIGI ke-25 yang dijadwalkan di Yogyakarta juga batal. VOI menghubungi drumer GIGI Gusti Hendy. Ia mengklarifikasi bahwa situasi berbeda terjadi pada konser GIGI. Menurut Hendy, pembatalan konser didasari pada kesepakatan dua pihak. "Pemberitaan yang menyebutkan konser dibatalkan itu tidak benar. Karena, sebenarnya kami sepakat untuk menunda konser karena ada banyak hal yang kami pikir belum nyaman," kata dia.

Armand Maulana, sang vokalis melengkapi pernyataan Hendy. Menurutnya, ada sejumlah konsep yang diproyeksikan GIGI dan tim untuk diterapkan di dalam konser istimewa itu. Namun, seiring berjalannya persiapan,GIGI dan tim mulai menyadari kesulitan dalam menerapkan konsep yang telah mereka rancang. Alhasil, konser 2 November yang dinanti para penggemar GIGI itu batal.

“Ada beberapa part yang belum siap. Daripada kita paksakan, nanti malah berjalan, terus gagal. Ngapain gitu kan. Karena ini kan bukan show ecek-ecek kan. Makanya, kemarin dibatalin itu bukan karena masalah apa. Kita merasa ‘ngapain kita maksain kalau misalnya nanti pada saat show-nya tidak siap. Tidak matang’,” tutur Armand kepada VOI, Rabu, 27 November.

Armand menyebut tak ada kerugian yang GIGI alami. Persiapan GIGI untuk konser pun menurut Armand baru sampai tahap latihan dan penunjukkan tim teknis. Jika ada kerugian, paling-paling berbentuk kekecewaan pribadi. Sebab, di dalam GIGI, setiap personel selalu memiliki mimpi dan visi untuk menerapkan konsep-konsep istimewa di momen milad GIGI.

Hendy menambahkan, pembatalan konser ulang tahun ke-25 GIGI bukan masalah besar. Baginya, konser tersebut bisa dilaksanakan kapan saja. Pembatalan satu konser tak akan membuat momentum ulang tahun GIGI yang jatuh bulan Maret serta merta hilang. "Kan bisa saja kita gelar sebelum Maret tahun depan," kata Hendy terkekeh.

Lagipula, andai ada kekecewaan, GIGI coba mengobatinya dengan merilis box set album 25 tahun GIGI. Box set itu terdiri dari empat versi dari tiap-tiap personel: Armand, Dewa Budjana, Thomas Ramdhan, dan Hendy. Box set tersebut telah didistribusikan dan dapat dibeli melalui e-commerce dan www.belialbumfisik.com.

 "Lagi pula, ulang tahun GIGI kami tandai dengan perilisan box set. Tidak ada momentum yang hilang."

Belajar

Ini bukan kali pertama GIGI mengalami batal konser. Sebelumnya, kejadian serupa terjadi di perayaan ke-17. Kali itu, permasalahan yang dialami GIGI sama: konsep tak kesampaian. “Kalau kayak gitu sebenarnya fine-fine saja. Karena kekuatan kan yang bisa menilai diri kita sendiri juga kan. Jadi, pada saat mau show terus kekuatan kita kurang, kayaknya dipaksain bisa amburadul juga, nih,” tutur Armand.

Pengalaman GIGI dan pembatalan konser dilengkapi Hendy. Beberapa waktu lalu, konser GIGI di Makassar sempat dibatalkan. Bahkan, saat itu promotor kabur. Karena itu, GIGI dan tim menyita barang-barang milik promotor, termasuk BPKB mobil sebagai ganti rugi. Pandangan menarik disampaikan Hendy. Menurutnya, GIGI tak pernah benar-benar memusingkan pembatalan konser lantaran telah memiliki strategi untuk mengantisipasinya.

Dalam setiap kontrak mentas, GIGI selalu menetapkan klausul pembayaran tanda jadi sebesar 50 persen dan pelunasan seluruh pembayaran satu hari sebelum mereka tampil. Hal ini menurutnya penting untuk menekan risiko pembatalan dari sisi penampil. "Apalagi (panggung) di luar kota. Sangat berisiko,” tutur Hendy.

"GIGI itu band yang enggak terlalu musingin batal atau enggak sebenarnya. Selama tanda jadi sudah masuk, itu kami anggap sebagai ganti rugi jika acara dibatalkan. Kami enggak pernah minta tambahan. Toh, kan kami memang belum tampil," tambahnya.

Hal berlainan justru terjadi pada penyelenggaraan Lokatarafest 2019 akhir pekan lalu. Musikus muda Amerika Serikat, Peachy! mencak-mencak lantaran Lokatara, kolektif musik penyelenggara, lamban menyelesaikan urusan cuan. Peachy! juga marah-marah di akun Instagramnya lantaran panitia lalai mengurus visanya.

Perkara itu membuat paspornya ditahan dan kehilangan penerbangan. Kemarahan yang jelas beralasan. Namun, barangkali Peachy! dapat belajar dari GIGI, band yang telah 25 tahun bermusik, tentang bagaimana cara mengakali risiko-risiko semacam ini.

Artikel Selanjutnya: Janji Manis di Tengah Kisruh Bisnis Gelaran Musik