Menanti Bongky, Indra dan Pay Menggelar Konser 'Slank Perjuangan'

Menanti Bongky, Indra dan Pay Menggelar Konser 'Slank Perjuangan'

Indra, Pay, Bongky (Instagram @payburman)

Bagikan:

JAKARTA - Sepekan terakhir, dunia maya - khususnya Instagram - diramaikan oleh berita tentang band rock legendaris Slank. Bukan Slank yang sekarang, melainkan tiga mantan personel Slank yang akan menggelar konser dengan repertoar berisi lagu-lagu lima album pertama band asal Gang Potlot tersebut.

Kabar pertama muncul pada pekan lalu. Bongky Ismail Marcell - mantan bassis Slank Formasi 13 - mengungkap, dirinya, Pay (gitar) dan Indra Qadarsih (kibor) - yang kini mengibarkan bendera BIP - akan membawakan lagu-lagu Slank dengan lima sampai enam vokalis berbeda.

"Setuju ya kalo gw Pay Indra plus beberapa penyanyi bawain lagu Slank 1-5 dibuat album sama tour #preF13 siapa yg mo jadi PIC," tulis Bongky, yang kemudian dilengkapi dengan emoji tertawa. Sejak saat itu, dunia maya 'gaduh' secara positif.

Dibilang positif, lantaran banyaknya dukungan yang mengalir. Bukan cuma  dari para pengemar tetapi juga dari sesama musisi. Di antaranya, Iman J-rocks dan Boym (vokalis Seurieus).

"Gw ikut ya bong..." kata Iman J-rock dalam kolom komentar unggahan Bongky.

"@imaninejrocksofficial man, terbunuh sepi ter-sexy," balas Boym.

Pada postingan berikutnya, Bongky menegaskan kepada para penggemar, konser yang akan mereka gelar bukan konser reuni Slank Formasi 13, melainkan konser BIP yang menampilkan beberapa musisi tamu.

"Ini bukan reuni. Ini BIP Spesial Show. Mau bawain lagu kami dari Slank 1-5, pake 5 penyanyi buat refreshing jaman '90an," tulis Bongky.

 

Sepertinya postingan Bongky bukan cuma ocehan semata. Faktanya, Pay dan Indra juga ikut mengunggah segala hal yang berhubungan dengan rencana konser tersebut. Indra terlihat kembali berlatih memainkan lagu-lagu lama Slank, antara lain Percuma, Pisah Saja Dulu, dan American Style.

Pay bahkan sudah berlatih dengan Bongky dan beberapa musisi tambahan, salah satunya Massto Sidharta (adik Bimbim yang merupakan drumer Kidnap Katrina).

Berdasarkan unggahan foto Ezra Simanjuntak, gitaris band metal Zi Factor yang pada masa mudanya nongkrong di Potlot, daftar lagu 31F (Bertiga Satu formasi) - demikian nama proyek konser ini akhirnya dinamakan -  mencapai 30 trek.

"Yang udah dibawain tadi dalam sesi 3 jam lebih. Mayan byk yg ternyata belum pernah dibawain live. Capek juga ya kan 😆 @payburman @bongqmarcelworld @indraqadarsih @masstosidharta," tulis Ezra. 

Daftar lagu tersebut lantas dibuat lagu baru yang diberi judul, JUDUL. Ini dilakukan Pay, Bongky dan Massto saat menunggu kedatangan Indra di studio.

"Lagu lama jadi baru, Judulnya masih tetap “JUDUL”. Sambil nunggu @indraqadarsih yang lagi nunggu pelangi," tulis Pay.

Beberapa tahun terakhir, para penggemar Slank mendesak Kaka dan Bimbim untuk melakukan konser reuni Formasi 13 dengan Bongky, Pay, dan Indra. Konser seakan jauh dari kenyataan ketika Bongky mengunggat Slank terkait logo berbentuk kupu-kupu buatannya yang sampai kini masih digunakan Slank.

Namun, ketika Bongky hadir dalam perayaan ulang tahun Bunda Iffet di Potlot, penggemar mulai melihat ada titik terang pada konser reuni ini. Namun, lantas hilang lagi lantaran Bimbim dan Kaka tidak kunjung memberi kepastian kapan konser tersebut bakal dilangsungkan.

Bongky, yang ingin mengobati kekecewaan para penggemar, lantas berniat menggelar konser BIP dengan sejumlah musisi tamu. Lebih tepatnya, konser 'Slank Perjuangan'.

Sedikit mundur ke belakang, Bongky, Pay, dan Indra dipecat Bimbim saat Slank menggarap album Lagi Sedih pada 1996. Ketiganya lantas membentuk BIP (Baongky, Indra, Pay) pada tahun yang sama yang ditindaklanjuti dengan pelepasan album debut Turun dari Langit lima tahun kemudian.

Sambil menunggu jadwal resmi konser Slank Perjuangan alias 31F, pantau terus Instagram @bongqmarcelworld, @payburman, dan @indraqadarsih untuk melihat persiapan mereka membawakan lagu-lagu masterpiece dari album Suit... Suit... He...He (Gadis Sexy) (1990), Kampungan (1991), Piss (1993), Generasi Biru (1994), dan Minoritas (1996).