Helmy Yahya Benar, Liga Indonesia Lebih Mahal dari Liga Inggris

Helmy Yahya Benar, Liga Indonesia Lebih Mahal dari Liga Inggris

Ilustrasi (Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Helmy Yahya dipecat dari kursi Direktur Utama (Dirut) TVRI pada 16 Januari 2020. Ada sejumlah alasan mengapa Dewan Pengawas TVRI memecat Helmy sebagai Dirut. Salah satunya, Helmy membeli hak siar Liga Inggris yang menimbulkan utang.

Namun, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen, Selasa, 28 Januari, Helmy menyebut harga hak siar Liga Inggris jauh lebih murah dibandingkan Liga Indonesia. Benarkah demikian?

Mungkin, Helmy punya alasan mengapa ia mengatakan Liga Inggris jauh lebih murah dari Liga Indonesia. Tapi kami tidak akan membahasnya terlalu jauh, karena bukan tempatnya. Sebaliknya, kami coba menganalisa pernyataan tersebut dan memberikan penjelasan dengan versi kami.

Begini, Liga Indonesia tidak hanya menampilkan permainan mengolah si kulit bundar tetapi juga melibatkan banyak cabang olahraga. Tidak percaya? Liga Indonesia sering diselingi keributan antarpemain sehingga mereka harus mempraktekan tinju, karate, taekwondo, mix martial art, bahkan 'lempar lembing'. Ini yang menyebabkan Liga Indonesia lebih mahal dari Liga Inggris.

Lalu, di Liga Indonesia, siapa pun yang bermain selalu bertajuk BIG MATCH. Entah itu sesama tim papan atas, antara tim papan atas dengan tim papan bawah, sesama tim medioker, atau tim penghuni zona merah. Kita tahu sendiri, yang namanya BIG MATCH di Liga Inggris adalah pertandingan yang melibatkan tim 'Top 6' musim sebelumnya. Yang terjadi, laga akbar dalam empat pekan awal seperti United vs Chelsea, Man City vs Tottenham, Arsenal vs Liverpool, dan Arsenal vs Tottenham, tidak disiarkan TVRI.

Di Liga Indonesia, Perseru lawan Kalteng Putra saja dilabeli BIG MATCH. Tak heran jika liga anak bangsa ini jauh lebih mahal dari liganya Negeri Ratu Elizabeth. Seluruh 306 pertandingan Liga Indonesia semuanya BIG MATCH! 

Tidak sampai di situ. Di Liga Inggris, suporter tidak bisa berulah meski semua stadionnya tanpa pagar. Pasalnya, FA akan mencatat identitas penonton yang masuk stadion. Sekali bikin rusuh, suporter tersebut bakal di-banned masuk stadion di seluruh Inggris untuk beberapa tahun, bahkan seumur hidup. Hilangnya pagar pembatas justru membuat suporter Inggris dewasa. Kalau ini diterapkan di Liga Indonesia, sudah kebayang kan apa yang bakal terjadi? 

Di Liga Indonesia, pagarnya tinggi saja nyawa jadi taruhan. Penonton bakal masuk ke lapangan dan melukai pemain atau pelatih dari tim lawan jika tidak puas dengan hasil akhir pertandingan. Kerusuhan suporter yang terjadi pada laga Arema FC vs Persib Bandung yang terjadi April 2018 menjadi salah satu contoh.

Kejadian tersebut bermula pada menit-menit akhir pertandingan ketika para penonton yang tak puas dengan kepemimpinan wasit memasuki lapangan. Akibat dari kerusuhan itu, dahi pelatih Persib Bandung, Mario Gomez, mengalami pendarahan. Tak hanya itu, sejumlah suporter juga mengalami cedera akibat insiden tersebut.

Meski demikian, kejadian di luar stadion baik sebelum maupun setelah pertandingan biasanya jauh lebih mengerikan. Tidak sedikit suporter yang nyawanya melayang akibat dipukuli suporter tim lawan. Ini alasan lain mengapa Liga Indonesia jauh lebih mahal dari Liga Inggris. Iya, taruhannya nyawa!

Berikutnya adalah denda yang diterima tim, pemain hingga panitia pelaksana (Panpel) pertandingan yang melakukan pelanggaran. Jenis pelanggaran yang berakhir dengan denda ini bisa berupa penyerangan pemain terhadap wasit, suporter yang melempar benda berbahaya ke lapangan, atau panitia yang gagal memberikan rasa aman dan nyaman. Komisi Disiplin PSSI bisa membuat setiap tim pelanggar merogoh kocek hingga ratusan juta. Tidak terbayang kan betapa mahalnya Liga Indonesia? 

Ini analisa versi kami, bukan penjelasan dari Helmy Yahya. Jadi, jangan dianggap serius. Karena membahas sepak bola Indonesia kalau terlalu serius ujung-ujungnya bakal sakit hati. Kita terlalu sering menaruh harapan kepada sepak bola Tanah Air, padahal selalu berakhir dengan kekecewaan. Lebih baik kita nonton liga yang 'murah' itu saja, ya. Mumpung sisa hak siarnya masih ada. Soalnya, musim depan belum tentu masih nongol di TVRI.