Baznas Serahkan Bantuan 700 Tabung Oksigen ke Pemprov Jabar, Diterima Langsung Ridwan Kamil

JABAR - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerima bantuan 700 tabung oksigen dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jabar dan PT Abyro Multitecno Cemerlang.

Bantuan diterima langsung oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil di Kantor PT Migas Hulu Jabar di Kota Bandung, Rabu, 14 Juli. Setelah menerima bantuan tersebut, tabung oksigen langsung didistribusikan ke posko oksigen kabupaten/kota di Jabar.

Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, mengataka Pemprov Jabar terus berupaya memenuhi kebutuhan oksigen, terutama di rumah sakit.

Pemprov Jabar pun menugaskan dua Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), PT Jasa Sarana dan PT Migas Hulu Jabar, untuk memastikan distribusi oksigen berjalan baik.

"Pembagian tugas kami lakukan di Pemda Provinsi Jabar. Kami menugaskan dua BUMD, PT Jasa Sarana, kedua yang memiliki tempat ini PT Migas Hulu Jabar untuk mengurusi A sampai Z 'supply-demand' oksigen di Jawa Barat," kata Ridwan Kamil dilansir Antara

Dari sisi pasokan, Pemprov Jabar intens mencari produsen-produsen oksigen di Indonesia. Sudah ada beberapa perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Pertamina, dan PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, berkomitmen menyalurkan oksigen ke Jabar.

Selain itu, Pemprov Jabar juga mendapat bantuan berupa 1.500 tabung oksigen dari Singapura. Bantuan itu penting mengingat sulitnya mencari perusahaan yang memproduksi tabung oksigen.

"Kemarin baru pulang dari Sumatera, untuk meminta komitmen perusahaan-perusahaan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Saya juga ikut mencari bantuan dengan mengontak sahabat-sahabat lama saya di Singapura. Alhamdulillah, hari Kamis akan datang 1.500 tabung dari Singapura hasil pendekatan langsung kepada mereka," katanya.

Kebutuhan akan tabung oksigen terus mengalami peningkatan. Tak hanya di rumah sakit, tetapi banyak juga pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri membutuhkan tabung oksigen.

"Pak Sekda telah menghitung neraca kebutuhan oksigen di Jabar, yang biasa normal, saat ini melonjak berkali-kali lipat sehingga kita ada defisit per hari ini sampai 300 ton. Oleh karena itu strategi kita terbagi dua. Fokus pada pembelian dan mencari hingga ke daerah atau negara tetangga. Karena apa? karena yang meninggal akibat saturasi rendah kekurangan tabung dan oksigen itu banyak sekali," katanya.