Airlangga Sebut Rupiah Melemah 5 Persen, Fundamental Ekonomi Masih Kuat
JAKARTA — Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kondisi makroekonomi Indonesia saat ini lebih baik dibanding periode krisis sebelumnya. Ia menyebut depresiasi rupiah sekitar 5 persen, jauh lebih rendah dari sejumlah gejolak masa lalu.
Hal itu disampaikan Airlangga seusai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat, 22 Mei.
Dalam rapat itu, Presiden menerima sejumlah tokoh senior, termasuk mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah dan Paskah Suzetta. Mereka berbagi pengalaman saat menghadapi tekanan ekonomi pada periode 2004-2014, termasuk krisis 2008.
Airlangga mengatakan para tokoh itu menyampaikan catatan soal situasi masa lalu, termasuk lonjakan harga minyak pada 2005 dan dampaknya terhadap inflasi serta nilai tukar.
“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen,” kata Airlangga.
Baca juga:
Menurut Airlangga, pemerintah belajar dari pengalaman krisis masa lalu untuk mengantisipasi tekanan ke depan.
Airlangga mengatakan Presiden meminta pemerintah memonitor regulasi untuk memperkuat kondisi finansial dan menjaga prinsip kehati-hatian perbankan.
Ia juga menyebut pemerintah akan mengkaji penguatan permodalan perbankan karena jumlah bank di Indonesia cukup banyak.
Airlangga membantah sentimen pasar dipicu badan ekspor dan neraca perdagangan.
“Tidak,” ujarnya.
Ia mengatakan IHSG yang sempat terkoreksi merupakan hal wajar. Menurutnya, koreksi itu terkait emiten yang keluar dari indeks lembaga pemeringkat.
Airlangga juga menyebut hasil pertemuan dengan asosiasi pengusaha dalam dan luar negeri terkait devisa hasil ekspor dan DSI mendapat respons positif.
Menurut Airlangga, hampir seluruh asosiasi mengapresiasi kebijakan pemerintah dan siap bekerja sama dengan badan yang dibentuk pemerintah.