Bagikan:

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara terkait penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan melemahnya nilai tukar rupiah.

Airlangga menegaskan pemerintah akan terus berusaha untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia agar dapat mendorong perekonomian di tengah ketidakpastian global.

"Tentu kita masih melihat long term dan kita dari bursa tentu kita berharap situasi fundamental ini bisa didorong lagi," kata Airlangga kepada awak media, Jumat, 28 Februari

Airlangga menjelaskan pemerintah tidak melihat pergerakan nilai tukar ataupun indeks bursa secara harian, melainkan dalam jangka panjang.

"Kan enggak dilihat harian," tuturnya.

Oleh sebab itu, Airlangga menegaskan pemerintah terus memantau pergerakan nilai tukar dan IHSG.

Untuk diketahui, saat ini nilai tukar rupiah tengah melemah terhadap dolar AS dimana mencapai di level atas Rp16.500 per dolar AS. Sementara itu, IHSG merosot hingga ke level 6.300,1 atau melemah 2,86 persen pada perdagangan sesi I hari ini, Jumat, 28 Februari.

Sebelumnya, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman menjelaskan penurunan IHSG dalam lima hari terakhir dapat disebabkan oleh berbagai faktor baik global, domestik, maupun korporasi.

Iman menyampaikan dari sisi global terdapat beberapa isu yang memengaruhi, seperti perang tarif antara AS dan mitranya, serta kebijakan The Fed terkait suku bunga menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.

"Trump 2.0 tidak mudah. Saat ini, sekitar 70 persen dana global tetap mengalir ke aset berkualitas tinggi di AS. Selain itu, ancaman tarif dagang terus muncul, seperti yang sebelumnya terjadi pada Meksiko dan Kanada, serta Uni Emirat Arab," jelasnya kepada awak media, Jumat, 28 Februari.

Selain kebijakan perang tarif, Iman menyampaikan faktor lainnya yaitu kebijakan terkait pajak pertambahan nilai (VAT) yang diharapkan dapat turun namun ternyata tidak sesuai ekspektasi pasar.

"Ada harapan VAT turun, tetapi realitasnya justru menunjukkan tren berbeda. Sementara itu, suku bunga AS yang tetap tinggi membuat investor lebih memilih aset dengan risiko rendah dibandingkan saham di emerging markets," jelasnya.