Efisiensi, Starbucks PHK 300 Karyawan di AS

JAKARTA - Starbucks akan memangkas 300 karyawan di Amerika Serikat sebagai bagian dari strategi efisiensi perusahaan. Jumlah itu setara sekitar 3 persen dari tenaga kerja Starbucks di negara tersebut.

Mengutip Anadolu Agency, Minggu, 17 Mei, langkah itu menjadi bagian dari strategi Back to Starbucks, program perusahaan untuk mengembalikan bisnis ke pertumbuhan yang lebih stabil dan menguntungkan.

“Kami mengambil langkah lanjutan dalam strategi Back to Starbucks, melanjutkan momentum bisnis kami yang kuat dan berupaya mengembalikan perusahaan ke pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan,” kata Starbucks dalam pernyataan kepada FOX, seperti dikutip Anadolu.

Perusahaan menyebut para pemimpinnya telah meninjau ulang fungsi kerja masing-masing untuk mempertajam fokus, menentukan prioritas pekerjaan, mengurangi kerumitan operasional, dan menekan biaya.

“Akibatnya, kami menghapus sekitar 300 posisi pendukung di AS,” kata perusahaan.

Langkah ini menunjukkan perusahaan masih melanjutkan penataan internal meski bisnisnya disebut memiliki momentum yang kuat. Di tengah persaingan ketat dan perubahan pola konsumsi, perusahaan global kini semakin agresif memangkas biaya operasional.

Starbucks juga meninjau organisasi pendukung internasionalnya. Perusahaan ingin memperkuat fokus sebagai “pemberi lisensi kelas dunia”, yakni model bisnis yang mengandalkan kerja sama lisensi merek dan operasional dengan mitra di berbagai negara.

Dalam pernyataannya, Starbucks memperkirakan akan ada dampak tambahan terhadap sejumlah posisi di luar AS. Namun perusahaan belum menjelaskan jumlah pekerja yang kemungkinan terdampak.

Selain melakukan PHK, perusahaan juga menutup beberapa kantor pendukung regional. Starbucks belum merinci kantor mana saja yang akan ditutup dan berapa banyak pekerja di luar AS yang berpotensi terdampak.