Negara Bagian California Umumkan Peraturan yang Batasi Keuntungan Calo Tiket Hanya 10 Persen

JAKARTA - Geliat industri hiburan di California, Amerika Serikat (AS), kini memasuki babak baru yang akan berpihak pada kantong penggemar.

Mengikuti jejak beberapa wilayah lain di AS yang mulai gerah dengan praktik percaloan, sebuah rancangan undang-undang resmi diperkenalkan untuk membatasi harga jual kembali (re-sale) tiket konser di negara bagian tersebut.

Anggota Majelis Negara Bagian California, Matt Haney, secara resmi memperkenalkan California Fans First Act. Regulasi ini dirancang dengan satu misi utama: mematok harga maksimal penjualan kembali tiket konser, teater, hingga pertunjukan komedi, agar tidak lebih dari 10 persen dari harga asli.

Langkah berani ini diambil untuk memutus rantai harga tidak masuk akal yang sering kali mencekik para penggemar di pasar sekunder.

Berdasarkan draf tersebut, harga dasar yang dimaksud mencakup harga tiket asli ditambah biaya administrasi resmi dari platform pertama.

Jika aturan ini disahkan, California akan menyusul Maine sebagai negara bagian yang lebih dulu menerapkan batas maksimal 110 persen pada tahun 2025.

Adapun isu mahalnya tiket akibat monopoli dan ulah tengkulak memang sedang menjadi sorotan panas di AS. Musisi kenamaan, Kid Rock, bahkan sempat memberikan kesaksian di hadapan Kongres AS pada akhir Januari lalu. Ia menyebut sistem yang ada saat ini, terutama dominasi Live Nation dan Ticketmaster, sebagai sebuah kegagalan total yang merugikan semua pihak kecuali korporasi.

"Eksperimen Live Nation-Ticketmaster telah gagal total. Perusahaan besar dan penipu secara rutin menaikkan biaya tiket pertunjukan musik, yang mana hal ini sangat tidak adil bagi penggemar dan sama sekali tidak memberikan keuntungan nyata bagi para artis itu sendiri," kata Kid Rock saat berbicara di Capitol Hill, dikutip NME, Senin, 9 Februari.

Fenomena perlindungan konsumen terhadap praktik dynamic pricing dan percaloan sebenarnya telah lebih dulu diperkuat di Inggris. Pemerintah Inggris di bawah kepemimpinan Partai Buruh telah mengonfirmasi larangan penjualan tiket di atas harga asli untuk musik, olahraga, hingga teater.

Menteri Kebudayaan Inggris, Lisa Nandy, menyatakan bahwa langkah ini adalah kemenangan bagi masyarakat luas.

"Kami berjanji saat terpilih bahwa waktu bagi para calo tiket telah habis. Ini adalah hari yang baik. Orang-orang tentu saja tetap bisa menjual kembali tiket mereka jika batal hadir, tetapi tidak boleh lebih dari harga yang mereka bayar. Mereka harus menjualnya sesuai harga aslinya," ujar Lisa Nandy.

Langkah California ini diprediksi akan memicu efek domino di negara bagian lain seperti New York, Washington, dan Tennessee yang sedang menggodok aturan serupa.

Bagi para penggemar musik di Indonesia yang sering mengeluhkan fenomena 'war tiket' dan harga calo yang melambung berkali-kali lipat, gerakan di California dan Inggris ini tentu menjadi referensi segar mengenai bagaimana hukum seharusnya hadir melindungi hak-hak penikmat seni.