Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, NATO Minta Menahan Diri dan Bertanggung Jawab
JAKARTA - Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pada Hari Kamis mendesak "tanggung jawab serta pengekangan diri" seiring berakhirnya perjanjian New START, yang menetapkan batasan pada persenjataan nuklir, antara Amerika Serikat dan Rusia, yang menimbulkan kekhawatiran akan perlombaan senjata baru.
"Pengekangan diri dan tanggung jawab di bidang nuklir sangat penting untuk keamanan global," kata seorang pejabat dari aliansi militer pimpinan AS, dengan syarat anonim, melansir Al Arabiya dari AFP (5/2).
Lebih lanjut pejabat tersebut mengatakan, Rusia dan China sama-sama meningkatkan kemampuan nuklir mereka dan NATO "akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan" untuk memastikan pertahanan mereka sendiri.
"Retorika nuklir Rusia yang tidak bertanggung jawab dan sinyal nuklir yang memaksa menunjukkan sikap intimidasi strategis," jelas pejabat itu.
Sementara itu, "China terus dengan cepat memperluas dan mendiversifikasi persenjataan nuklirnya dengan lebih banyak hulu ledak dan sejumlah besar sistem pengiriman yang canggih," tambahnya.
Terpisah, Kremlin pada Hari Kamis mengatakan pihaknya menyesalkan berakhirnya perjanjian terakhir yang mengatur persenjataan nuklir Rusia dan Amerika Serikat dan menyebutnya sebagai langkah negatif.
Sementara, Washington mengatakan setiap perjanjian nuklir baru harus mencakup China, tetapi upaya internasional untuk mendorong Beijing bergabung dalam pembicaraan baru sejauh ini gagal.
Baca juga:
- Wamenlu RI: Indonesia Siap Membangun Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Dunia Islam
- Ukraina Harapkan Pertukaran Tahanan dengan Rusia di Tengah Negosiasi Abu Dhabi
- Pejabat PBB Peringatkan Peningkatan Serangan ISIS di Seluruh Dunia
- Taiwan Sebut Percakapan Telpon Xi-Trump Membantu Menstabilkan Keamanan Regional
Diketahui, Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) yang berakhir pada 5 Februari 2026, ditandatangani pada 8 April 2010 di Praha oleh Amerika Serikat dan Rusia dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011, dikutip dari Anadolu.
Perjanjian ini menggantikan perjanjian START I tahun 1991, yang berakhir pada Desember 2009, dan menggantikan Perjanjian Pengurangan Senjata Serangan Strategis (SORT) tahun 2002, yang berakhir ketika New START mulai berlaku, menurut Arms Control Association yang berbasis di AS.