Bagikan:

JAKARTA - Seorang pejabat senior kontra-terorisme PBB kepada Dewan Keamanan pada Hari Rabu, ISIS telah meningkatkan serangan di seluruh dunia selama enam bulan terakhir meskipun ada tekanan internasional yang berkelanjutan.

Direktur Eksekutif Direktorat Eksekutif Komite Kontra-Terorisme (CTED) Natalia Gherman mengatakan, kelompok tersebut terus melakukan dan menginspirasi "serangan destruktif" di berbagai wilayah geografis, dari Suriah dan Irak, hingga Sahel, Cekungan Danau Chad, Afrika Timur, dan Australia.

"Dampaknya sangat menghancurkan," kata Gherman, menambahkan para pengawas PBB telah mendokumentasikan strategi penggalangan dana dan propaganda yang semakin canggih yang digunakan oleh kelompok tersebut, melansir The National (5/2).

Lebih lanjut Gherman memperingatkan, situasi kemanusiaan tetap kritis di Suriah, di mana lebih dari 26.000 orang ditahan di kamp-kamp dan fasilitas penahanan karena dianggap memiliki hubungan keluarga dengan ISIS.

Sebagian besar adalah anak-anak yang tidak dapat kembali ke komunitas asal mereka dan telah ditolak haknya untuk mendapatkan proses hukum yang adil, katanya.

Ia menambahkan, perubahan terkini dalam pengelolaan kamp Al Hol di Suriah timur laut memerlukan pemantauan ketat dan keterlibatan internasional yang berkelanjutan.

Kamp tersebut sebelumnya dikelola oleh pasukan Kurdi Suriah, tetapi mereka kehilangan kendali atas kamp tersebut kepada pasukan pemerintah bulan lalu.

Para tahanan Al Hol adalah bagian dari kekhalifahan yang diproklamirkan sendiri oleh para militan, yang didirikan setelah ISIS merebut sebagian besar wilayah Suriah dan Irak pada tahun 2014 dan dihancurkan oleh pasukan Kurdi yang didukung AS pada tahun 2019. Banyak dari mereka yang ditahan adalah perempuan dan anak-anak.

Sementara itu, sebuah laporan oleh Sekretaris Jenderal PBB yang diedarkan kepada anggota Dewan Keamanan pekan lalu mengatakan, ancaman yang ditimbulkan oleh ISIS telah meningkat secara stabil sejak penilaian sebelumnya pada Agustus 2025, menjadi lebih kompleks dan menyebar di beberapa wilayah.

Laporan tersebut mengatakan, ISIS terus memanfaatkan konflik bersenjata, ketidakstabilan politik, dan tata pemerintahan yang buruk, dan tetap menjadi ancaman besar bagi hak asasi manusia, pembangunan, dan perdamaian serta keamanan internasional.

"Seperti yang dijelaskan dengan sangat jelas dalam laporan ini, ancaman yang ditimbulkan oleh Daesh [ISIS] telah meningkat secara terukur," kata Gherman.

"Kekerasan teroris telah meningkat di berbagai wilayah, dan Daesh telah terbukti tangguh secara finansial dan militer meskipun mengalami kemunduran. Kita tidak boleh melupakan tujuan bersama kita untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional," urainya.

Terpisah, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz, mengatakan, Washington tetap "sangat prihatin" dan bertekad untuk mengambil "tindakan berani" terhadap ISIS, Al Qaeda dan afiliasinya.

"Mereka terus mengeksploitasi ketidakstabilan di seluruh Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan, dan ancamannya semakin meningkat," kata Waltz.

"Ancaman ini tidak hanya semakin menyebar dan kompleks, tetapi juga semakin melibatkan pejuang asing yang berkumpul di berbagai zona konflik," tandasnya.

Waltz memuji negara-negara anggota yang operasi kontra-terorismenya telah membatasi kelompok-kelompok militan, terutama di Irak, Suriah dan Somalia.

Ia mendesak negara-negara lain, khususnya di Eropa, untuk mengikuti contoh Baghdad dalam memulangkan orang-orang yang ditahan dan mengungsi dari Suriah timur laut.

Hal ini terjadi setelah AS mengumumkan serangkaian serangan lain terhadap target ISIS di Suriah sebagai balasan atas serangan Desember yang menewaskan dua tentara Amerika dan seorang penerjemah.

Bulan lalu, Komando Pusat Amerika Serikat (US CENTCOM) mulai memindahkan ribuan pejuang ISIS yang ditahan ke "lokasi aman" yang tidak ditentukan di Irak, bersama dengan puluhan ribu wanita dan anak-anak.

Di sisi lain, Baghdad memandang kamp tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan regional.