Pulihkan Aceh Pascabencana, Pakar UIN: Jangan Sekadar Bangun Fisik, Lakukan Restorasi Ekologi Aktif
JAKARTA – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh dan sebagian wilayah Sumatera pada akhir 2025 meninggalkan luka mendalam bagi sektor pangan dan ekonomi rakyat. Menanggapi kondisi tersebut, Guru Besar Ekonomi Pertanian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Achmad Tjachja Nugraha, mendesak pemerintah untuk melakukan restorasi ekologis aktif sebagai solusi jangka panjang.
Menurut Prof. Achmad, kerusakan lingkungan di Aceh saat ini sudah mencapai titik di mana alam tidak bisa lagi dibiarkan pulih sendiri. "Negara harus hadir melalui restorasi ekologis aktif, terutama pada sektor pertanian dan perikanan yang menjadi tumpuan hidup rakyat," tegasnya dalam pernyataan resmi, Rabu (14/1).
Ancaman Krisis Pangan di Depan Mata
Data menunjukkan dampak kerusakan yang sangat masif di wilayah Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat):
Sektor Pertanian: Diperkirakan 40.000 hektare lahan sawah dan hortikultura terdampak. Lahan-lahan ini terendam air dalam waktu lama dan tertimbun lumpur, yang memicu risiko gagal panen nasional.
Sektor Perikanan: Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat sekitar 38.875 hingga 40.000 hektare area tambak budidaya rusak diterjang banjir.
Contoh Daerah: Di Mandailing Natal (Sumut), kerusakan mencapai 3.245 hektare, sementara di berbagai kabupaten di Aceh, ratusan hektare sawah dilaporkan lumpuh total.
Baca juga:
- Deteksi Dini Jadi Kunci Menghadapi Beban Ganda Penyakit di Indonesia
- Eksklusif Celine Evangelista: Antara Tanggung Jawab Profesional dan Panggilan Hati
- Budaya Kerja Sehat yang Bikin Karyawan Betah dan Semakin Produktif
- Ahli Sebut Stres Selama Kehamilan Berkaitan dengan Risiko Epilepsi Lebih Tinggi pada Anak
Apa Itu 'Nature-Based Solutions'?
Prof. Achmad yang juga menjabat Ketua Umum KASAI ini menawarkan pendekatan nature-based solutions (solusi berbasis alam). Tujuannya bukan sekadar membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi:
Rehabilitasi Tanah: Memulihkan kesuburan tanah yang tertimbun material bencana.
Pemulihan Aliran Sungai: Memperbaiki ekosistem hulu ke hilir agar mampu menampung debit air di masa depan.
Infrastruktur Hijau: Memperkuat pesisir untuk melindungi tambak dan pemukiman warga secara berkelanjutan.
Dukungan Pemerintah dan Langkah Nyata
Sebagai langkah darurat, pemerintah pusat telah berencana melakukan pencetakan ulang 11.000 hektare sawah yang rusak parah di wilayah Sumatera.
Prof. Achmad mengapresiasi gerak cepat Presiden dalam membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus serta kesigapan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di lapangan. "Respons aktif ini memberikan harapan bahwa pemulihan Aceh adalah tanggung jawab bersama seluruh anak bangsa," ujarnya.