Bagikan:

JAKARTA — Pemulihan pascabencana sering kali hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan dan jembatan. Namun, pascabencana hidrometeorologi Aceh November 2025, pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan meluncurkan strategi berbeda bernama Skema Kerja Satuan Pemulihan Ekosistem Kebudayaan (SPEK) Aceh 2026.

Langkah ini bukan sekadar seremonial. SPEK dirancang untuk memulihkan "jiwa" Aceh yang ikut terdampak saat rumah dan harta benda warga luluh lantak.

Data Dampak: 1.471 Pelaku Budaya Terdampak

Bencana tidak hanya merusak benda, tapi juga mengancam keberlangsungan tradisi. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I mencatat dampak yang signifikan:

1.471 entitas budaya terdampak: Meliputi seniman, budayawan, juru pelihara cagar budaya, hingga pendamping desa budaya.

Warisan Terancam: Banyak situs cagar budaya yang memerlukan penilaian cepat (quick assessment) untuk mencegah kerusakan permanen.

Krisis Generasi: Mahasiswa seni dan budaya dari 17 kabupaten/kota kehilangan fasilitas untuk terus berkarya.

Seni Sebagai Obat Trauma

Salah satu poin unik dalam SPEK Aceh adalah penggunaan permainan tradisional sebagai media pemulihan trauma (trauma healing) bagi anak-anak. Melibatkan 385 seniman secara aktif, program ini membuktikan bahwa seni memiliki kekuatan penyembuhan yang tidak dimiliki oleh bantuan logistik biasa.

"Kebudayaan harus diposisikan sebagai fondasi ketahanan sosial, bukan sekadar pelengkap pemulihan fisik," tegas narasi dalam skema tersebut.