Pamungkas Blak-blakan Soal Tekanan Menulis Lirik Berbahasa Indonesia

JAKARTA - Pamungkas blak-blakan mengenai alasan di balik dominasi bahasa Inggris dalam karya-karya yang dirilisnya sejak debut solonya di tahun 2018.

Meski dikenal sebagai salah satu musisi lokal paling produktif, penyanyi-penulis lagu 32 tahun itu justru merasa tidak percaya diri saat harus merangkai lirik dalam bahasa Indonesia.

Ketidakpercayaan diri ini muncul karena ia merasa terbebani oleh standar tinggi yang diciptakan oleh band-band Tanah Air yang mendahuluinya.

Pamungkas menjelaskan, awal perkenalannya dengan musik diwarnai karya-karya besar dari Slank, Padi, hingga Dewa 19.

Baginya, lirik-lirik yang diciptakan oleh para pendahulu telah menetapkan standar kualitas yang sangat tinggi, sehingga ia merasa memiliki tekanan besar untuk menyamai level penulisan tersebut.

"Saya itu tumbuh di era emas—ada Slank, Padi, Dewa 19, dan lainnya—di mana saya tumbuh dengan standar penulisan lagu dan lirik di situ. Ya tekanan kali ya buat diri saya sendiri, di mana standar lagu dan lirik Indonesia di masa itu tuh ada di situ,” kata Pamungkas kepada awak media di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan baru-baru ini.

Di sisi lain, referensi musik pribadinya justru lebih banyak dipengaruhi oleh musisi mancanegara seperti Evanescence hingga Jason Mraz.

“Sementara saya tumbuh lewat hit Evanescence dan “I'm Yours”-nya Jason Mraz. Ya tidak dipungkiri, keterbiasaan menyanyi dan menulis lagunya (menjadi) bahasa Inggris," tambahnya.

Pelantun “To the Bone” itu juga khawatir jika lirik bahasa Indonesia yang ia tulis justru akan terasa berlebihan.

Namun di balik ketidakpercayaan diri Pamungkas, publik justru memberikan apresiasi besar pada segelintir karyanya yang berbahasa Indonesia, seperti “Monolog” dan “Kenangan Manis”.

"Saya sering banget seperti lihat lagi lirik lagu-lagu lama saya, 'Kok begini ya?' Iya sih, pas saya lihat lagi liriknya cringe sih," tandas Pamungkas seraya tertawa mengenang proses kreatifnya di masa lalu.