JAKARTA - Guernica Club menyajikan sebuah kolaborasi spesial dengan Merdi Simanjuntak, musisi yang dikenal sebagai DJ sekaligus co-founder Diskoria dan anggota band Showbiz. Dalam komposisi bertajuk Curtains, mereka menyatukan kreativitas dan musikalitas dalam porsi pas.
Lagu ini sendiri diproduseri oleh Joseph Saryuf dan menghadirkan pendekatan musikal yang atmosferik, intim, serta reflektif. Curtains adalah sebuah lagu tentang cahaya, kerentanan, dan upaya untuk tidak menghilang
Lirik yang tertuang di dalamnya mengeksplorasi tentang pencarian cahaya di tengah rasa kehilangan arah dan ketidakpastian. Liriknya menggunakan metafora cahaya, bayangan, dan tirai untuk menggambarkan kondisi emosional seseorang yang berada di ambang menghilang, namun masih berusaha bertahan.
“‘Curtains’ adalah lagu tentang momen ruang jujur untuk kerentanan dan pencarian diri ketika seseorang hampir menghilang, namun masih berusaha menemukan cahaya kecil yang membuatnya bertahan.” — Guernica Club
Kolaborasi dengan Merdi menghadirkan karakter vokal yang lembut namun emosional, berpadu dengan produksi Joseph Saryuf yang sinematis dan detail. Lapisan synth yang melankolis serta dinamika aransemen yang tenang menciptakan ruang kontemplatif, memperkuat nuansa personal yang ditawarkan lagu ini.

“Bagi saya, ‘Curtains’ berbicara tentang perasaan rapuh yang sering tidak terucap—tentang berada di antara ingin dilihat dan takut untuk benar-benar terlihat,” ujar Merdi dalam keterangan tertulis, 29 Desember.
Selain versi utama yang dirilis sebagai penutup tahun, “Curtains” juga akan hadir dalam dua versi tambahan. Versi remix oleh Showbiz dijadwalkan meluncur pada 9 Januari 2026, menawarkan interpretasi baru dengan pendekatan sonik yang berbeda.
BACA JUGA:
Sementara itu, versi instrumental akan menyusul pada 16 Januari 2026, memberi ruang bagi pendengar untuk meresapi atmosfer dan emosi lagu secara lebih mendalam.
“Bagi Guernica Club, “Curtains” menandai kelanjutan eksplorasi mereka terhadap sisi musik yang lebih jujur dan intim. Lagu ini bukan tentang pembuktian, melainkan tentang kehadiran—tentang menerima kerentanan sebagai bagian dari perjalanan kreatif dan emosional.