Usai Sopir Meninggal, Pemprov DKI Evaluasi Sistem Angkut dan Skrining Kesehatan Truk Sampah
JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai melakukan screening kesehatan massal terhadap pengemudi truk sampah Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.
Langkah ini menyusul peristiwa meninggalnya seorang sopir truk sampah yang diduga kelelahan saat mengantre muatan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang beberapa waktu lalu.
Pemeriksaan difokuskan pada deteksi dini risiko kesehatan yang kerap dihadapi para pengemudi, terutama mereka yang memiliki jam kerja panjang dan intensitas perjalanan tinggi menuju TPST Bantargebang.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim, menyebut kebijakan ini sebagai respons preventif atas insiden tersebut sekaligus tindak lanjut arahan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
"Sebagai bentuk komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga keselamatan dan kesejahteraan para petugas kebersihan, khususnya pengemudi truk sampah, sejalan dengan arahan bapak Gubernur Pramono Anung, Pemprov DKI Jakarta memulai program screening kesehatan massal di TPST Bantargebang," kata Chico dalam keterangannya, Selasa, 23 Desember.
Screening kesehatan mencakup pemeriksaan fisik dasar, seperti tekanan darah, kadar gula darah, kondisi jantung, serta evaluasi kebugaran secara umum. Pemeriksaan ini menyasar ratusan pengemudi dari berbagai wilayah administrasi di Jakarta, dengan prioritas pada sopir yang rutin mengangkut sampah ke Bantargebang.
"Tujuannya adalah untuk mendeteksi dini potensi risiko kesehatan yang mungkin dialami para pengemudi akibat jam kerja yang panjang dan kondisi lalu lintas di sekitar TPST Bantargebang," ucapnya.
Selain pemeriksaan kesehatan, Pemprov DKI juga tengah mengevaluasi sistem pengangkutan sampah secara menyeluruh. Evaluasi mencakup penataan ulang jadwal angkut hingga upaya mengurangi antrean truk di kawasan TPST Bantargebang.
Ia menambahkan, perhatian terhadap keselamatan pengemudi menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan layanan kebersihan di Jakarta.
"Bapak Gubernur Pramono Anung menghargai dedikasi para petugas kebersihan yang telah bekerja keras menjaga kebersihan ibu kota, dan program ini merupakan langkah konkret untuk melindungi mereka," ujar Chico.
"Kami mengajak seluruh pihak, termasuk mitra swasta dan masyarakat, untuk mendukung upaya ini demi menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat," lanjutnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang sopir truk sampah bernama Wahyudi dari Sudin LH Jakarta Selatan dikabarkan meninggal dunia usai mengantre terlalu lama untuk membongkar muatan sampah ke TPST Bantar Gebang pada Jumat 5 Desember 2025. Wahyudi juga dikeahui memiliki riwayat penyakit jantung.
Berdasarkan keterangan dari rekan-rekan sopir, antrean bongkar muatan di Bantargebang bisa berlangsung sangat lama, bahkan disebut sampai 20 jam. Proses antre panjang tersebut dituding menjadi penyebab kelelahan yang mengakibatkan sopir tersebut meninggal.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengaku kondisi hujan bisa menjadi gangguan operasional di TPST Bantargebang. Hal ini mengakibatkan waktu kerja para sopir truk sampah yang mengantar sampah dari Jakarta ke Bantargebang semakin molor.
"Setiap kali hujan deras, pembuangan harus kami hentikan sementara demi keselamatan pekerja. Kondisi landfill yang semakin meninggi menyimpan risiko yang tidak bisa kami abaikan," kata Asep kepada wartawan, Rabu, 10 Desember.
Dalam situasi normal, waktu tunggu truk di Bantargebang berada di kisaran tiga jam. Namun antrean meningkat drastis menjadi enam hingga delapan jam dalam beberapa hari terakhir.
Setelah hujan berhenti, petugas perlu waktu tambahan untuk menata kembali titik buang agar aman digunakan kembali. Hal inilah yang menghambat kelancaran operasional pengelolaan di TPST Bantargebang.
Baca juga:
Selain itu, tekanan kerja bertambah karena jalur menuju lokasi pembuangan terendam air. Genangan ini dipicu oleh longsoran di TPA Sumur Batu milik Pemkot Bekasi yang menutup aliran Kali Asem sehingga mobilitas truk terganggu.
"Kondisi-kondisi inilah yang membuat antrean truk memanjang dalam beberapa hari terakhir," kata Asep.