Bagikan:

JAKARTA - Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengaku kondisi hujan bisa menjadi gangguan operasional di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Hal ini mengakibatkan waktu kerja para sopir truk sampah yang mengantar sampah dari Jakarta ke Bantargebang semakin molor.

Hal ini merespons wafatnya seorang sopir truk sampah yang meninggal dunia karena kelelahan saat mengantre bongkar muatan ke TPST Bantargebang.

"Setiap kali hujan deras, pembuangan harus kami hentikan sementara demi keselamatan pekerja. Kondisi landfill yang semakin meninggi menyimpan risiko yang tidak bisa kami abaikan," kata Asep kepada wartawan, Rabu, 10 Desember.

Dalam situasi normal, waktu tunggu truk di Bantargebang berada di kisaran tiga jam. Namun antrean meningkat drastis menjadi enam hingga delapan jam dalam beberapa hari terakhir.

Setelah hujan berhenti, petugas perlu waktu tambahan untuk menata kembali titik buang agar aman digunakan kembali. Hal inilah yang menghambat kelancaran operasional pengelolaan di TPST Bantargebang.

Selain itu, tekanan kerja bertambah karena jalur menuju lokasi pembuangan terendam air. Genangan ini dipicu oleh longsoran di TPA Sumur Batu milik Pemkot Bekasi yang menutup aliran Kali Asem sehingga mobilitas truk terganggu.

"Kondisi-kondisi inilah yang membuat antrean truk memanjang dalam beberapa hari terakhir," kata Asep.

Untuk meredakan situasi, DLH menambah dua titik pembuangan sehingga lima titik buang dapat beroperasi secara paralel. Pengaturan ulang jam keberangkatan armada dari tiap wilayah juga diberlakukan untuk menghindari penumpukan pada jam tertentu.

"Dengan penjadwalan yang lebih teratur, arus kendaraan bisa dikendalikan dan waktu antre menjadi lebih efisien," ujar Asep.

Asep mengaku solusi jangka pendek tak cukup. Dinas LH DKI, diklam Asep, akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan pola kerja yang lebih aman serta pengelolaan sampah yang tidak membebani petugas di lapangan.

"Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kami untuk memperketat standar keselamatan kerja agar kejadian serupa tidak terulang," tutur Asep.

DLH kini menata ulang pola pengangkutan dari lima wilayah kota. Perubahan dilakukan pada jadwal armada dan arus pembuangan agar tidak terpusat pada jam yang sama. Pemerataan waktu buang sampah ini diharapkan dapat menurunkan beban antrean serta mencegah titik-titik penumpukan baru.

"Dengan distribusi yang lebih merata dan dukungan sistem informasi yang mumpuni, waktu tunggu dapat ditekan dan beban kerja lebih terukur," jelas Asep.

Asep menyebut pembenahan tidak hanya berhenti pada reformulasi jadwal, tetapi juga mencakup penguatan fasilitas pendukung dan pengaturan operasional yang lebih responsif kondisi lapangan. Pembaruan protokol keselamatan disebut menjadi langkah penting untuk memastikan keselamatan pekerja yang bertugas di tengah jam operasional panjang.

"Perbaikan ini kami lakukan agar sistem pengelolaan sampah Jakarta semakin efisien, aman, dan manusiawi. Perlindungan bagi para pekerja yang menjadi tulang punggung kebersihan kota adalah prioritas kami," tuturnya.

Sebagai informasi, seorang sopir truk sampah bernama Wahyudi dari Sudin LH Jakarta Selatan dikabarkan meninggal dunia usai mengantre terlalu lama untuk membongkar muatan sampah ke TPST Bantar Gebang pada Jumat 5 Desember 2025. Wahyudi juga dikeahui memiliki riwayat penyakit jantung.

Berdasarkan keterangan dari rekan-rekan sopir, antrean bongkar muatan di Bantargebang bisa berlangsung sangat lama, bahkan disebut sampai 20 jam. Proses antre panjang tersebut dituding menjadi penyebab kelelahan yang mengakibatkan sopir tersebut meninggal.