Bagikan:

JAKARTA - Saham Nvidia mengalami kenaikan signifikan sebesar 3,93 persen setelah muncul laporan bahwa raksasa teknologi tersebut berencana mulai mengekspor chip kecerdasan buatan (AI) tipe H200 ke China pada pertengahan Februari 2026.

Berdasarkan laporan Reuters, Nvidia telah menginformasikan kepada para klien di China mengenai jadwal pengiriman yang ditargetkan berlangsung sebelum libur Tahun Baru Imlek.

Meskipun rencana ini telah disusun secara matang, keberhasilannya masih sangat bergantung pada persetujuan dari pemerintah Beijing. Pihak pemerintah China hingga kini belum memberikan lampu hijau resmi atas pembelian tersebut. Tentu ini, yang berpotensi menjadi hambatan bagi jalannya distribusi.

Nvidia menyatakan akan memanfaatkan stok yang ada saat ini untuk memenuhi pesanan tahap awal, dengan perkiraan total pengiriman mencapai 5.000 hingga 10.000 modul chip, atau setara dengan sekitar 40.000 hingga 80.000 unit chip AI H200.

Selain memenuhi pesanan awal, perusahaan juga telah memberitahu pelanggan di China mengenai rencana perluasan kapasitas pabrik untuk produksi H200, di mana pembukaan pesanan baru dijadwalkan akan dimulai pada kuartal kedua tahun 2026.

Langkah ini menunjukkan ambisi Nvidia untuk tetap menguasai pasar China meskipun di tengah pembatasan perdagangan yang ketat.

Ketidakpastian utama dalam rencana ekspor ini terletak pada perizinan resmi dari pemerintah Amerika Serikat. Awal bulan ini, Gedung Putih mengumumkan akan mengizinkan ekspor H200 ke China dengan syarat adanya pemotongan performa sebesar 25 persen.

Jika pengiriman ini terealisasi sesuai rencana, hal tersebut akan menjadi pengiriman besar pertama Nvidia di tengah ketegangan perdagangan AS-China yang terus berlanjut.

Pemerintahan Trump dikabarkan telah mulai meninjau permintaan lisensi penjualan H200 ke China sebagai langkah tindak lanjut dari janji Donald Trump untuk menyetujui ekspor tersebut, meskipun terdapat tekanan dan kekhawatiran terkait isu keamanan nasional.

Chip H200 sendiri dibangun menggunakan arsitektur seri Hopper yang lebih lama, sehingga memiliki kecepatan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan chip Blackwell atau Rubin yang jauh lebih canggih. Namun, permintaan terhadap H200 tetap sangat tinggi untuk beban kerja AI karena pasokan chip Blackwell yang saat ini masih sangat langka di pasar global.

Di sisi lain, pemerintah China terus berupaya mengurangi ketergantungan pada teknologi Amerika dengan mendorong pemain domestik seperti Alibaba dan Baidu untuk mengembangkan chip AI yang lebih maju, walaupun hingga saat ini belum ada produk lokal yang mampu menandingi performa chip H200.

Sentimen positif mengenai rencana ekspor ini semakin memperkuat posisi saham Nvidia (NVDA) yang saat ini memegang konsensus peringkat "Strong Buy" dari para analis di TipRanks. Dengan target harga rata-rata sebesar 263,58 dolar AS, saham perusahaan ini diprediksi memiliki potensi kenaikan sebesar 45,6 persen dari level saat ini.

Secara keseluruhan, kinerja saham Nvidia telah melonjak sebesar 34,8 persen sepanjang tahun berjalan, yang mencerminkan dominasi tak tergoyahkan perusahaan dalam industri perangkat keras pendukung kecerdasan buatan di tingkat dunia.