Imigrasi AS Tangkap Ibu dari Keponakan Sekretaris Pers Gedung Putih

JAKARTA - Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) mengamakan ibu dari keponakan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, kata para pejabat Hari Rabu.

Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) mengatakan dalam sebuah pernyataan, otoritas imigrasi telah menangkap wanita tersebut, warga negara Brasil, Bruna Caroline Ferreira, tetapi menolak untuk memberikan keterangan lebih lanjut.

Laporan berita mengatakan Ferreira telah ditahan di Revere, Massachusetts, dekat Boston, melansir Al Arabiya dan Reuters 27 November.

DHS mengatakan Ferreira telah memasuki AS dengan visa turis dan gagal pergi. Namun, pengacaranya, Jeffrey Rubin, mengatakan ia sedang mencari tempat tinggal permanen dan sebelumnya telah mendapatkan perlindungan dari deportasi di bawah program untuk imigran yang dibawa ke AS secara ilegal saat masih anak-anak.

Lebih jauh DHS mengatakan, Ferreira pernah ditangkap atas tuduhan penganiayaan, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. Reuters tidak dapat mengonfirmasi tuduhan tersebut secara independen.

Menanggapi permintaan komentar kepada Gedung Putih, sebuah sumber yang mengetahui masalah ini mengonfirmasi Ferreira adalah ibu dari keponakan Leavitt. Sumber tersebut mengatakan, keponakan itu telah tinggal bersama saudara laki-laki Leavitt, Michael Leavitt, di New Hampshire sejak lahir dan tidak pernah tinggal bersama Ferreira.

DHS mengatakan Ferreira ditahan di pusat penahanan ICE di Louisiana.

"Di bawah Presiden Trump dan Menteri Noem, semua individu yang berada secara tidak sah di Amerika Serikat dapat dideportasi," kata juru bicara tersebut.

Rubin, pengacara yang berbasis di Boston dan mewakili Ferreira, mengatakan dalam sebuah pernyataan, firma hukumnya berharap dapat segera membebaskannya.

Sebelumnya, ia terdaftar dalam program Deferred Action for Childhood Arrivals (Tindakan Penangguhan untuk Kedatangan Anak), yang menawarkan keringanan deportasi dan izin kerja bagi imigran yang dibawa ke AS saat masih anak-anak, ujarnya.

Rubin mengatakan, pemerintah yang sama yang menawarkannya jalur menuju kewarganegaraan kini telah memilih untuk "menyalahgunakan wewenang yang dipercayakan" dengan "deportasi massal secara acak."

Sebuah laman GoFundMe yang digalang oleh saudara perempuan Ferreira, Graziela Dos Santos Rodrigues, bertujuan untuk mengumpulkan 30.000 dolar AS untuk biaya hukumnya, menggambarkannya sebagai seorang ibu yang tidak mementingkan diri sendiri dan pekerja keras.

"Ia telah melakukan segala daya upayanya untuk membangun kehidupan yang stabil dan jujur ​​di sini," kata laman tersebut.

"Ia telah mempertahankan status hukumnya melalui DACA, mematuhi setiap persyaratan, dan selalu berusaha untuk melakukan hal yang benar," tandasnya.

Penahanannya "sangat menyakitkan" bagi putranya yang berusia 11 tahun, "yang membutuhkan ibunya dan berharap setiap hari bahwa ia akan pulang tepat waktu untuk liburan," kata laman tersebut.

Diketahui, Presiden AS Donald Trump telah menambah jumlah petugas imigrasi ke kota-kota besar di seluruh AS dalam upaya untuk mencapai tingkat deportasi yang bersejarah, mencakup banyak penduduk jangka panjang dan non-penjahat.

Lebih dari dua pertiga dari sekitar 53.000 orang yang ditangkap oleh Imigrasi dan Bea Cukai AS dan ditahan hingga 15 November tidak memiliki catatan kriminal, menurut statistik ICE.