MDKA Ungkap Proyek Tambang Bawah Tanah Tujuh Bukit Diperkirakan Mencapai 1,5 Miliar Dolar AS
BANYUWANGI - PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memperkirakan total investasi untuk proyek tambang bawah tanah Tembaga Tujuh Bukit akan mencapai sekitar 1,5 miliar dolar AS, tidak termasuk biaya pembangunan fasilitas pemurnian (smelter).
Sebagai informasi, proyek yang dijalankan melalui anak perusahaan MDKA, PT Bumi Suksesindo (BSI), ini pada awalnya dimulai dengan investasi senilai 200 juta dolar AS pada tahun 2018.
"Perkiraan pengembangan tambang bawah tanahnya (Tujuh Bukit underground) dan prosesing sampai konsentrat aja, perkiraan (investasi) antara 1 miliar dolar AS sampai 1,5 miliar dolar AS, belum termasuk smelter,” kata Corporate Communications MDKA Tom Malik dalam Mine Tour & Media Workshop, Jumat, 7 November.
Saat ini, PT Bumi Suksesindo mengoperasikan area tambang seluas 992 hektare dari total wilayah konsesi 4.998 hektare, berdasarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi dan Produksi yang diterbitkan pada tahun 2012. Lokasi tambang berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, dalam kawasan hutan produksi.
Adapun, proyek tambang bawah tanah tersebut masih berada pada tahap praproduksi, dengan aktivitas pengeboran baru dilakukan di area permukaan. Berdasarkan Mineral Resources Estimate (MRE) per Maret 2024, proyek Tujuh Bukit memiliki kandungan sumber daya sekitar 8,2 juta ton tembaga dan 27,9 juta ounces emas.
Untuk tahun berjalan, MDKA menargetkan produksi sebesar 100–110 ribu ounces emas serta 11–13 ribu ton tembaga. Menurut Tom, proses produksi berjalan sesuai rencana perusahaan, meskipun rincian capaian aktual belum diungkapkan.
Selain itu, terkait rencana pembangunan smelter atau kerja sama pengembangan tambang, Tom menyampaikan bahwa hal tersebut masih dalam tahap pembahasan internal.
"Investasi untuk pengembangan tambangnya sendiri juga tidak sedikit ya. Jadi memang itu mungkin manajemen yang akan melihat apakah itu ada kerjasama, apakah membangun sendiri belum ditentukan. Saat ini belum ada," imbuhnya.
Lebih lanjut, Tom menjelaskan bahwa PT Merdeka Copper Gold Tbk masih memiliki sejumlah proyek besar yang sedang berjalan, termasuk Proyek Tambang Emas Tujuh Bukit Bawah Tanah dan Proyek Pani Gold Resource.
"Tapi Merdeka kan punya proyek-proyek besar yang masih berjalan, jadi pastinya akan ada aksi korporasi untuk mengembangkan proyek-proyek. Termasuk yang 7 Bukit Bawah Tanah ini," jelasnya.
"7 Bukit Cooper, Pani Merdeka Gold Resource itu kan yang akan mulai berjalan adalah fase pertama. 2026 mulai produksi emas. Fase pertama itu menggunakan metode heap leach. Nantinya ada fase berikutnya yang menggunakan metode carbon in leach. Jadi itu akan ada investasi lagi di situ," tambahnya.
Secara bersamaan, ia menyampaikan MDKA juga tengah menyiapkan peralihan operasi Tambang Tujuh Bukit dari sistem tambang terbuka menuju tambang bawah tanah.
SEE ALSO:
Tom menuturkan bahwa tambang terbuka Tujuh Bukit masih memiliki umur operasi hingga tahun 2030, dan pihaknya berupaya agar proses transisi berlangsung tanpa masa jeda.
“Kami harap bisa terjadi transisi langsung, tidak ada jeda. Tapi, belum keluar detailnya. Ini kita sedang feasibility study (studi kelayakan) detail untuk menghitung atau mendesain bagaimana caranya menambang dan proyeksinya gimana. (Target) tahun ini mestinya selesai feasibility study-nya,” ucapnya.
Tom menyampaikan setelah studi kelayakan selesai, proyek akan berlanjut ke tahap konstruksi, sebelum akhirnya masuk ke fase produksi komersial.
Berdasarkan hasil studi pra-kelayakan (pre-feasibility study/PFS) yang dirilis pada Mei 2023, saat mencapai puncak produksi, proyek Tembaga Tujuh Bukit diperkirakan mampu mengolah 24 juta ton bijih per tahun, menghasilkan lebih dari 110.000 ton tembaga dan 350.000 ounces emas setiap tahunnya, dengan masa operasi lebih dari tiga dekade.