CrowdStrike: Marketplace Anonim China Raup Transaksi Ilegal Hingga Miliaran Dolar AS

JAKARTA - CrowdStrike baru saja merilis "2025 APJ eCrime Landscape Report", yang mengungkap semakin berkembangnya marketplace anonim berbahasa Mandarin, yang menjadi pusat aktivitas kejahatan siber di Asia Pasifik dan Jepang (APJ).

Laporan ini menunjukkan bahwa marketplace bawah tanah China — termasuk Chang’an, FreeCity, dan Huione Guarantee — tetap mempertahankan anonimitas melalui clearnet, darknet, dan channel di platform Telegram.

“Pelaku kejahatan siber kini mengkomersialisasi kejahatan digital di kawasan Asia Pasifik dan Jepang melalui pasar bawah tanah yang terus berkembang dan operasi ransomware yang semakin kompleks," ujar Adam Meyers, Head of Counter Adversary Operations, CrowdStrike.

Ekosistem terdesentralisasi ini menjadi pusat aktivitas bagi pelaku berbahasa Mandarin untuk membeli dan menjual kredensial curian, kit phishing, malware, dan layanan pencucian uang – dengan total transaksi ilegal mencapai 27 miliar dolar AS sebelum mengalami gangguan pada 2025.

Pada saat yang sama, CrowdStrike juga menemukan peningkatan operasi ransomware yang didorong kecerdasan buatan (AI), mulai dari rekayasa sosial yang didukung AI hingga pengembangan malware otomatis.

"Pada saat yang bersamaan, malware yang dikembangkan menggunakan AI memungkinkan para pelaku melancarkan serangan dengan kecepatan dan skala yang jauh lebih besar,” ujar tambah Meyers.

Ransomware berbasis AI yang menargetkan organisasi bernilai tinggi meningkat tajam, dengan India, Australia, dan Jepang menjadi negara yang paling terdampak. Di mana penyedia Ransomware-as-a-Service (RaaS) baru seperti KillSec dan Funklocker, yang memanfaatkan malware hasil pengembangan AI, tercatat bertanggung jawab atas lebih dari 120 insiden. 

Adapun sektor yang paling banyak menjadi sasaran berdasarkan laporan ini adalah, mencakup manufaktur, teknologi, dan jasa keuangan, dengan 763 korban yang diungkap secara publik di situs kebocoran data khusus.

“Tim pertahanan harus mampu merespons dengan langkah yang tegas, didukung oleh kekuatan AI, dipandu oleh pengalaman manusia, dan bersatu dalam menghadapi ancaman," tegasnya.