Bukan Sekadar Konten, Ini Cara Edho Zell Menjalani Hidup dengan Kreativitas
JAKARTA - Nama Edho Zell bukan lagi asing di dunia digital Indonesia. Dikenal sejak awal era YouTube 2009, jauh sebelum platform itu memiliki sistem monetisasi seperti Adsense, Edho sudah menapaki jalan panjang dalam dunia konten kreatif.
Kini perjalanannya berkembang jauh melampaui layar video menjadi penggerak di balik digital agency, edukator UMKM, hingga pelaku transformasi bisnis berbasis teknologi.
"Dari tahun 2009, saat YouTube belum ada Adsense, saya sudah mulai bikin konten. Dari muda sudah punya gagasan untuk bikin sesuatu dari nol," kenang Edho saat berbicara dalam forum Paper UNFOLD 2025 di The Kasablanka Hall, Jakarta pada Rabu, 15 Oktober 2025.
Perjalanan itu bukan hanya tentang hiburan digital. Bagi Edho, membangun kreativitas berarti membangun atensi. Ini menemukan cara untuk mencuri perhatian pasar lewat ide-ide orisinal.
Dari situ, ia mulai membangun Social Bread, sebuah agency digital yang kini dikenal sebagai salah satu TikTok agency paling berpengaruh di Indonesia, mengelola berbagai proyek dari kampanye digital hingga event offline besar seperti di Pekan Raya Jakarta (PRJ).
Pandemi COVID-19 menjadi titik balik besar dalam karier Edho. Di masa banyak bisnis kecil terpaksa tutup, Edho justru menemukan panggilan baru yaitu membantu teman-teman pedagang di Tanah Abang dan ITC yang kehilangan penghasilan karena kebijakan pembatasan.
"Banyak teman jualan di Tanah Abang dan ITC yang datang ke saya mau belajar online. Awalnya cuma dua-tiga orang, tapi mereka berhasil dan akhirnya yang lain pada ikut,” ujarnya.
Baca juga:
Sejak saat itu, lahirlah gerakan sosial berbasis pelatihan digital marketing, di mana Edho dan timnya membantu pelaku usaha kecil memahami cara membangun brand di media sosial.
"Semua akhirnya mau pakai social brand, dan kami bantu mereka bikin sistem. Mulai dari rekrutmen Gen Z untuk bikin konten, sampai melatih jadi social media specialist," tambahnya.
Namun di balik keberhasilan membangun ekosistem kreatif, Edho mengakui tantangan besar justru ada pada sisi finansial.
"Saya orang kreatif, paling susah lihat angka," candanya.
Ia mengenang masa-masa awal ketika proyek agency harus menalangi pembayaran klien besar.
"Kadang kita yang talangin dulu biayanya, padahal proyeknya bisa miliaran. Tantangan itu nyata banget di industri agency,” kata Edho.
Di sinilah ia menyoroti pentingnya teknologi keuangan seperti yang dikembangkan Paper, terutama dalam hal payment, invoicing, dan cashflow management.
"Sekarang dengan kemajuan teknologi pembayaran dan invoicing, semua orang bisa belajar mengelola bisnis dengan lebih efisien," ujarnya.
Melalui kehadirannya di Paper UNFOLD 2025, Edho Zell menjadi salah satu contoh nyata transformasi pelaku kreatif yang berhasil beradaptasi dan membangun sistem bisnis berkelanjutan.
Forum ini sendiri menjadi ruang pertemuan lebih dari 1.000 pelaku usaha, profesional, dan investor lintas sektor, membahas masa depan bisnis Indonesia dengan tema "Rooted in Legacy, Rising with Technology".
Dalam sambutannya, Yosia Sugialam, Co-Founder & CEO Paper menyatakan sejak Paper berdiri delapan tahun lalu, ia belajar dari ratusan ribu pelaku usaha di berbagai sektor bahwa bisnis yang bertahan bukanlah yang tumbuh paling cepat, melainkan yang paling adaptif terhadap perubahan.
"Paper UNFOLD kami hadirkan untuk membantu pelaku usaha beradaptasi dengan berbagai perubahan, mengambil keputusan berbasis data, sehingga dapat mengembangkan bisnis yang lebih tangguh, tanpa kehilangan nilai-nilai legacy yang baik." ujarnya.
Kolaborasi dalam Paper UNFOLD 2025 juga diperluas melalui dukungan berbagai mitra strategis seperti BCA, BRI, Bank Mandiri, LogiFrame, Xero, hingga lebih dari 30 perusahaan multinasional. Sinergi ini menjadikan UNFOLD bukan hanga forum wacana, melainkan ruang aksi nyata yang bisa melahirkan inisiatif bisnis baru.