Pandemi COVID-19, Peperangan, dan Perubahan Iklim akan Bawa Kita ke Krisis Pangan Dunia

JAKARTA - Dampak dari pandemi COVID-19, peperangan, dan perubahan iklim dapat memicu kerugian ekonomi yang cukup besar. Ketiganya bahkan dapat memicu kekhawatiran dunia akan mengalami krisis pangan akut di lima tahun terakhir.

"Kita harus bertindak bersama untuk mencegah memburuknya situasi," kata direktur jenderal FAO Qu Dongyu dalam konferensi video dikutip CNA, Senin, 10  Mei.

Qu Dongyu menambahkan situasi kini semakin buru karena telah terjadi krisis pangan di mana-mana. Untuk itu, Dongyu mengajak segenap warga dunia untuk menyerukan peduli sesama.

"Kita harus mengatasi akar penyebab dan membuat sistem pertanian pangan lebih efisien, inklusif, tangguh dan berkelanjutan," tambahnya lewat kicauan di Twitter.

Tahun lalu, Jaringan Global Melawan Krisis Pangan yang menyatukan tiga organisasi internasional, telah mengidentifikasi 28 juta orang di 28 negara menderita kelaparan akut. Sederet negara yang terkena dampak kelaparan paling parah adalah Kongo, Yaman, Afganistan.

Sedang Benua Afrika menjadi benua yang paling parah dilanda kekurangan makanan dengan 98 juta orang terkena dampak, atau 63 persen dari kasus kelaparan global.

"Untuk 100 juta orang yang menghadapi krisis pangan akut pada 2020, penyebab utamanya terkait dengan konflik dan ketidakamanan," kata Direktur Darurat FAO, Dominique Burgeon.

Dalam konteks itu, krisis ekonomi menjadi penyebab utama kelaparan bagi 40 juta orang. Burgeon juga menambahkan bahwa pandemi COVID-19 ikut memperburuk kerentanan pangan.

Lebih lagi, kehadiran masalah perubahan iklim menjadi pelengkap alasan munculkan krisis pangan seperti yang terjadi di Sudan, Zimbabwe, dan Haiti. Dengan pembatasan wilayah karena COVID-19 yang masih berlaku di sebagian besar dunia, Burgeon mengatakan tahun mendatang akan sangat sulit.

Utamanya, ketiga hal diatas –pandemi, peperangan, perubahan iklim-- akan memperburuk keamanan pangan di negara yang sudah rapuh.