Imbas Pemotongan Dana USAID, WHO Peringatkan Kemungkinan Lonjakan Kasus Tuberkolosis

JAKARTA - Pemotongan dana dari Badan Pembangunan Nasional Amerika Serikat (USAID) menyebabkan gangguan penanganan berbagai proyek kemanusiaan, terutama di bidang kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pemotongan dana ini mungkin berdampak pada lonjakan kasus tuberkolosis dan kematian.

Lonjakan kasus tuberkolosis bisa terjadi karena banyak negara yang bergantung pada dana USAID untuk melakukan pencegahan, pengobatan, dan pengujian tentang penyakit tersebut. Jika dana tidak kunjung diberikan seperti biasanya akan semakin sulit memerangi tuberkolosis dan berbagai risetnya mengalami kemunduran.

“Tanpa tindakan segera, kemajuan yang diperoleh dengan susah payah dalam memerangi TB (tuberkolosis) akan berisiko,” kata Direktur Program Global WHO tentang TB dan Kesehatan Paru-paru, Tereza Kasaeva, dilaporkan NBC News pada 9 Maret 2025.

Secara global, tuberkolosis menjadi penyebab kematian terbanyak dari penyakit menular lainnya. Sekitar 1,25 juta orang meninggal karena infeksi bakteri ini pada tahun 2023.

USAID sebelumnya menyediakan sekitar seperempat dari dana donor internasional untuk layanan tuberkolosis di negara lain, hingga berjulam 250 juta dolar atau sekitar Rp4 triliun per tahunnya. USAID mengoperasikan program tuberkolosis di 24 negara.

Dengan pemotongan dana USAID oleh pemerintah Amerika Serikat ini, WHO mengatakan bahwa rantai pasokan obat tuberkolosis di beberapa negara terkendala. Layanan laboratorium, sistem pengawasan, identifikasi, pemantauan, dan pengobatan tuberkolosis terganggu. Beberapa uji coba penelitian tentang penyakit ini juga sudah dihentikan.

Dengan demikian, lonjakan kasus tuberkolosis kemungkinan besar bisa terjadi dalam beberapa waktu ke depan, terutama di negara berisiko tinggi di kawasan Afrika. Di Uganda, pemotongan dana USAID menyulitkan pembayaran petugas kesehatan, yang bisa berakibat fatal bagi pasien tuberkolosis.

“Pasien mungkin mendapatkan diagnosis TB setelah mereka meninggalkan klinik karena mereka sedang menunggu hasilnya, dan mereka mungkin berada di rumah dengan TB dan tidak tahu bahwa mereka memiliki TB. Benar-benar tidak ada sumber daya untuk keluar dan menjangkau orang-orang itu,” kata ahli epidemiologi klinis, Dr. Luke Davis.

"Orang-orang sekarat karena mereka memiliki penyakit yang belum terdiagnosis, belum diobati, belum dicegah,” tambahnya.

Sementara itu, orang dengan TB aktif biasanya mengalami batuk parah dan nyeri dada. Mereka mungkin batuk darah dan berlendir, serta mengalami kesulitan bernapas.

Jika tidak diobati, infeksi bakteri dapat merusak paru-paru dan menyebar ke bagian lain dari tubuh mereka seperti otak, ginjal, dan tulang belakang. Orang lain yang berkontak dekat dengan pasien TB juga berisiko tinggi terinfeksi, yang membuat penyakit ini harus ditangani dengan maksimal.

Pengobatan TB juga memerlukan banyak waktu dan biaya. Pasien tuberkulosis biasanya harus minum antibiotik selama enam bulan. Ini tidak boleh berhenti di tengah karena dapat menyebabkan seseorang menjadi resisten terhadap antibiotik, serta menyebarkan strain TB yang resisten terhadap obat itu kepada orang lain.