JAKARTA - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan PHK yang cukup besar imbas pemotongan dana dari Amerika Serikat (AS). Pemotongan dana membuat organisasi tersebut mengalami defisit anggaran beberapa ratus juta dolar.
“Penurunan pendapatan yang tiba-tiba telah membuat kita mengalami kesenjangan gaji yang besar dan tidak ada piliha, selain mengurangi skala pekerjaan dan tenaga kerja kita,” kata Tedros, dikutip dari CNA, pada Kamis, 24 April 2025.
Amerika Serikat memberikan WHO 1,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp21,8 triliun untuk anggaran 2022 hingga 2023. Hal ini terutama melalui kontribusi sukarela untuk proyek-proyek tertentu, daripada biaya keanggotaan tetap.
Namun, AS tidak pernah membayar iurannya untuk tahun 2024, dan diperkirakan juga tidak akan membayar iuran pada 2025. Hal ini akhirnya membuat WHO harus mempersiapkan struktur baru untuk berbagai sektor.
BACA JUGA:
“Penolakan AS untuk membayar kontribusi yang dinilai untuk tahun 2024 dan 2025 dikombinasikan dengan pengurangan bantuan pembangunan resmi oleh beberapa negara lain. Berarti kita menghadapi kesenjangan gaji untuk tahun 2026 hingga 2027 antara 560 juta dolar AS atau 650 juta dolar AS,” jelasnya.
Meski demikian, Tedros tidak mengungkap berapa banyak pekerjaan yang akan hilang di WHO, yang saat ini mempekerjakan lebih dari 8 ribu orang di seluruh dunia. Namun, ia mengaku telah mengucapkan perpisahan kepada sejumlah besar kolega dan berjanji akan melakukan pengurangan pekerja secara manusiawi.
Tedros mengatakan bahwa dampak paling besar akan terasa di kantor pusat WHO di Jenewa. Mereka mengurangi tim kepemimpinan senior di kantor pusat akibat pemotongan dana tersebut.
“Kami memulai dengan pengurangan manajemen senior. Kami mengurangi tim kepemimpinan senior di kantor pusat dari 12 menjadi 7. Dan jumlah departemen akan dikurangi lebih dari setengahnya, dari 76 menjadi 34,” pungkas Tedros.