Bagikan:

JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam sebuah pernyataan memperingatkan Tuberkulosis (TB) tetap menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia, dengan lebih dari 1,2 juta orang tewas dan 10,7 juta orang terinfeksi tahun lalu.

Menurut Laporan Tuberkulosis Global WHO 2025, meskipun kasus dan kematian global terus menurun, pendanaan yang stagnan dan akses yang tidak merata terhadap perawatan kesehatan mengancam akan menggagalkan kemajuan yang telah dicapai selama bertahun-tahun.

"Penurunan beban TB global, dan kemajuan dalam pengujian, pengobatan, perlindungan sosial, dan penelitian merupakan kabar baik setelah bertahun-tahun mengalami kemunduran, tetapi kemajuan bukanlah kemenangan," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam laporan tersebut, melansir Anadolu 13 November.

"Fakta TB terus merenggut lebih dari satu juta jiwa setiap tahun, meskipun dapat dicegah dan disembuhkan, sungguh tidak dapat diterima," tandasnya.

Antara tahun 2023 dan 2024, infeksi TB turun hampir 2 persen sementara kematian turun 3 persen, mencerminkan pemulihan layanan kesehatan esensial pascapandemi COVID-19.

Kawasan Afrika mengalami penurunan insiden TB sebesar 28 persen dan penurunan kematian sebesar 46 persen sejak tahun 2015. Sementara kawasan Eropa mengalami penurunan yang lebih besar dengan penurunan insiden sebesar 39 persen dan penurunan kematian sebesar 49 persen.

Selama periode yang sama, menurut laporan tersebut, lebih dari 100 negara mencapai setidaknya 20 persen penurunan tingkat insiden TB, dan 65 negara mencapai penurunan 35 persen atau lebih dalam kematian terkait TB.

Namun, 87 persen kasus TB baru masih terkonsentrasi di 30 negara pada tahun 2024 – delapan di antaranya, termasuk India, Indonesia, dan Filipina, menyumbang lebih dari dua pertiga kasus global, menurut laporan tersebut.

Sementara itu, pemotongan bantuan kesehatan dapat membunuh jutaan orang akibat Tuberkolosis. Pada tahun 2024, laporan tersebut menemukan 8,3 juta orang baru didiagnosis TB dan mendapatkan akses pengobatan, mewakili sekitar 78 persen dari orang yang terjangkit penyakit tersebut selama tahun tersebut.

Sementara itu, cakupan tes cepat untuk diagnosis TB meningkat dari 48 persen pada tahun 2023 menjadi 54 persen pada tahun 2024.

Menurut laporan tersebut, pendanaan tetap menjadi kendala terbesar. WHO menyatakan hanya 5,9 miliar dolar AS yang tersedia untuk pencegahan, diagnosis dan pengobatan pada tahun 2024, atau hanya seperempat dari target tahunan sebesar 22 miliar dolar AS yang ditetapkan untuk tahun 2027.

Pemotongan bantuan internasional jangka panjang dapat menyebabkan 2 juta kematian tambahan dan 10 juta infeksi baru pada tahun 2035, menurut pemodelan tersebut.

"Kita berada di momen yang menentukan dalam perang melawan TB," kata Tereza Kasaeva, direktur Departemen HIV, TB, Hepatitis dan IMS WHO.

"Pemotongan dana dan faktor-faktor pendorong epidemi yang terus-menerus mengancam akan menggagalkan pencapaian yang telah diraih dengan susah payah, tetapi dengan komitmen politik dan solidaritas global, kita dapat membalikkan keadaan dan mengakhiri pembunuh kuno ini untuk selamanya," tandasnya.

WHO juga menyerukan komitmen politik yang berkelanjutan, peningkatan investasi domestik, dan intensifikasi penelitian untuk mempercepat kemajuan.