Presiden Erdogan Sebut Turki Mendukung Dihentikannya Serangan Laut dan Udara dalam Perang Rusia-Ukraina

JAKARTA - Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada Hari Jumat, Turki mendukung gagasan untuk segera menghentikan serangan udara dan laut sebagai langkah membangun kepercayaan antara Ukraina dan Rusia, langkah konkret menuju gencatan senjata.

"Upaya kami untuk mencapai kesepakatan yang akan menjamin keselamatan navigasi di Laut Hitam sejalan dengan pendekatan ini," kata Presiden Erdogan dalam pertemuan daring yang diselenggarakan oleh Uni Eropa, melansir Daily Sabah 7 Maret.

Pernyataan Presiden Erdogan muncul tak lama setelah Presiden Ukraina Zelensky mengulangi tuntutannya untuk "hentikan di langit dan juga hentikan di laut," dalam unggahan di X, menyusul serangan "besar-besaran" Rusia terhadap jaringan energi negara itu sebelumnya.

Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Hari Minggu mengatakan London dan Paris mengusulkan gencatan senjata selama satu bulan "di udara, di laut dan di infrastruktur energi" dalam perang di Ukraina.

Turki, yang telah dua kali menjadi tuan rumah perundingan Ukraina-Rusia sejak dimulainya perang, juga berpendapat kedua belah pihak harus duduk bersama agar negosiasi perdamaian dapat berjalan.

Presiden Erdogan saat mengikuti pertemuan daring yang digelar Uni Eropa. (Sumber: Presidency of The Republic of Turkiye)

Sementara itu, Kremlin mengatakan pada hari yang sama, rancangan perjanjian perdamaian yang dibahas antara Rusia dan Ukraina di Istanbul pada tahun 2022 dapat menjadi titik awal penyelesaian krisis Ukraina.

"Hari ini, kami menyoroti pentingnya landasan diplomatik yang kokoh di mana kedua pihak yang bertikai akan duduk bersama untuk perdamaian yang adil, langgeng dan terhormat," katanya.

Turki yang juga anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), berupaya menjaga hubungan baik dengan negara-negara tetangganya yang bertikai di Laut Hitam.

Ankara telah menyediakan pesawat nirawak untuk Ukraina, tetapi menghindar dari sanksi yang dipimpin Barat terhadap Moskow. Turki juga menjadi perantara kesepakatan gandum di bawah bayang-bayang konflik dan pertukaran tahanan antara kedua belah pihak.

"Penting bagi Turki untuk diikutsertakan dalam mekanisme seperti Fasilitas Perdamaian Eropa, yang bertujuan untuk membangun kembali dan merevitalisasi Ukraina," kata Presiden Erdogan.

Turki yakin, merencanakan semua langkah terkait keamanan Eropa bersama Ankara akan menjadi "kepentingan bersama kita," tambahnya.

"Kami yakin tidak ada penjelasan atas pengecualian kami dari program pengadaan dan rekonstruksi produk pertahanan UE, mengingat dukungan industri pertahanan kami terhadap Ukraina dan kontribusi sektor swasta kami, yang tidak meninggalkan negara itu meskipun dalam kondisi perang," ujarnya.

Ia menegaskan kembali, keamanan Eropa tidak hanya menjadi perhatian anggota UE.

"Dengan semua upaya ini, tidak diragukan lagi penting untuk mendapatkan dukungan kuat dari sekutu kami, AS,dan melindungi hubungan trans-Atlantik secara maksimal," tambahnya.