Ramadan di Budapest, WNI Ini Andalkan Aplikasi untuk Waktu Berbuka
JAKARTA - Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Alfi Yusmar membagikan pengalamannya menjalani Ramadan untuk pertama kalinya di Budapest, Hungaria.
Ia mengungkapkan bahwa suasana di kota tersebut tidak terasa seperti bulan Ramadan karena mayoritas penduduknya bukan muslim.
Bahkan, saat menunggu waktu berbuka puasa atau azan magrib, Alfi mengaku tidak mendengar suara panggilan ibadah. Untuk mengetahui waktu berbuka, ia hanya mengandalkan aplikasi azan.
"Rasanya biasa saja karena tidak ada suara azan. Tapi kalau untuk puasa pribadi sih, saya menjalankannya seperti biasa. Jadi hampir tidak ada suasana Ramadan," kata Alfi saat dikonfirmasi VOI, Minggu, 2 Maret.
"Patokan azan ya dari aplikasi Muslim Pro, atau kalau dari Kedubes ada jadwal azan yang dikirimkan," lanjutnya.
Agar tetap merasakan suasana Ramadan, Alfi berinisiatif mengumpulkan teman-teman muslimnya untuk melaksanakan ibadah bersama di tempat tinggalnya.
"Kita ada rencana ngumpul bareng sama teman-teman WNI. Nanti di apartemen kita melaksanakan ibadah bersama," ujarnya.
Terkait menu berbuka puasa, Alfi memilih memasak sendiri karena harga makanan di luar lebih mahal.
"Di sini harga makanan sekitar 5 ribu forint atau setara Rp200 ribu per porsi. Kalau masak sendiri paling habis Rp30-70 ribu. Jadi lebih baik masak sendiri," ungkapnya.
Baca juga:
Alfi juga mengaku sangat merindukan suasana puasa di Indonesia, terutama momen berburu takjil dan makanan khas.
"Kangen banget. Biasanya keluar ada pecel ayam, sate, soto. Sekarang tidak ada. Itu yang paling bikin kangen," tutupnya.