Mengenal Self-Gaslighting, Perilaku Ketika Seseorang Meragukan Pengalaman dan Realitas Diri Sendiri

JAKARTA - Gaslighting sering kali dianggap sebagai bentuk manipulasi psikologis di mana seseorang berusaha membuat orang lain meragukan persepsi, ingatan, atau realitasnya sendiri. Namun, gaslighting juga dapat terjadi secara internal atau dikenal sebagai self-gaslighting. Fenomena ini menyebabkan individu mempertanyakan pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka sendiri. 

Menyadur informasi dari Inner Sparkle Therapy, Rabu, 26 Februari, self-gaslighting mengacu pada proses ketika seseorang terus-menerus meragukan atau meremehkan pengalaman, emosi, dan realitasnya sendiri. Konflik internal ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk trauma masa lalu, pembicaraan negatif tentang diri sendiri, atau tekanan masyarakat. Tidak seperti gaslighting eksternal dimana orang lain memanipulasi Anda, self-gaslighting adalah narasi yang dipaksakan sendiri, sehingga menciptakan kebingungan dan keraguan terhadap diri sendiri.

Ada beberapa alasan yang akhirnya menyebabkan seseorang melakukan self-gaslighting. Alasan-alasan tersebut antara lain;

Keyakinan Negatif yang Terinternalisasi

Banyak individu tumbuh dalam lingkungan di mana perasaan mereka diabaikan atau diremehkan. Seiring waktu, hal ini dapat menyebabkan keyakinan internal yang menunjukkan bahwa emosi mereka tidak valid atau dibesar-besarkan.

Takut Dihakimi

Orang mungkin melakukan self-gaslighting dalam upaya untuk menyesuaikan diri atau menghindari konflik. Mereka mengecilkan perasaan atau pengalaman mereka agar lebih sesuai dengan persepsi orang lain, karena takut bahwa jati diri mereka yang sebenarnya tidak akan diterima.

Mekanisme Koping

Self-gaslighting dapat menjadi mekanisme pertahanan terhadap rasa sakit emosional. Dengan menyangkal perasaan sejati seseorang, individu mungkin berpikir bahwa mereka melindungi diri mereka sendiri dari rasa sakit atau ketidaknyamanan.

Harga Diri Rendah

Orang dengan harga diri rendah mungkin mempertanyakan harga diri dan penilaian mereka, sehingga menyebabkan mereka mengabaikan kebutuhan dan perasaan mereka sebagai sesuatu yang tidak penting atau berlebihan.

Self-gaslighting dapat terjadi dalam berbagai bentuk, meski tak begitu tampak tapi punya dampak cukup besar dalam hidup. Berikut beberapa manifestasi umum:

Mengabaikan Emosi

Seseorang akan mengatakan pada diri sendiri bahwa mereka bereaksi berlebihan atau bahwa perasaan mereka tidak valid. Misalnya, seseorang mungkin berpikir, "Saya seharusnya tidak merasa seperti ini; orang lain lebih menderita," sehingga meminimalkan pengalaman emosional mereka sendiri.

Merasionalisasi Pengalaman Negatif

Pelaku self-gaslighting sering kali membenarkan perilaku atau situasi yang merugikan mereka. Mereka akan mengatakan hal-hal seperti, "Saya pasti pantas menerima itu," atau "Itu tidak seburuk itu," bahkan ketika keadaannya menyedihkan.

Distorsi Memori

Seseorang kesulitan mempercayai ingatannya tentang berbagai peristiwa, mempertanyakan apakah ingatannya akurat atau hanya berkhayal. Hal ini dapat menyebabkan kebingungan dan ketidakpastian tentang apa yang telah terjadi dalam hidupnya.

Overthinking

Menganalisis perasaan atau pengalaman secara terus-menerus dapat menyebabkan keraguan tak berujung. Hal ini dapat terwujud dengan memutar ulang percakapan atau peristiwa, mencari tanda-tanda bahwa mereka salah tentang perasaan atau interpretasi mereka.

Menghindari Perawatan Diri

Pelaku gaslighting diri mungkin mengabaikan kebutuhan mereka sendiri, percaya bahwa mereka tidak layak merawat diri atau bahwa perasaan mereka tidak perlu diperhatikan. Mereka memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri, yang menyebabkan kelelahan dan sakit hati.

Meski perilaku ini merugikan diri, tapi jika diniatkan Anda bisa keluar dari siklus ini. Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan sebagai upaya melepaskan diri dari jeratan self-gaslighting, yaitu;

Pengakuan

Awal mula memutus mata rantai self-gaslighting yaitu mulailah dengan mengakui perasaan Anda tanpa menghakimi. Terimalah bahwa emosi Anda valid apapun bentuk emosinya, meskipun tidak sesuai dengan apa yang mungkin dirasakan orang lain.

Berlatihlah untuk Berbelas Kasih pada Diri Sendiri

Sebelum bersikap baik pada orang lain, Anda perlu bersikap baik kepada diri sendiri. Pahamilah bahwa setiap orang memiliki perasaan dan pengalaman yang layak untuk dikenali dan dihargai. Bukan hanya orang lain, tapi dirimu sendiri juga membutuhkannya.

Cari Dukungan

Jika Anda merasa mengalami self-gaslighting, sebaiknya jangan menutup diri. Cobalah berbicara dengan teman, keluarga, atau terapis tepercaya dapat memberi Anda perspektif luar dan menegaskan realitas Anda.

Menulis jurnal

Akan sulit jika Anda hanya mengawang-ngawang apa yang dirasakan. Oleh karena itu, Anda perlu menuliskan pikiran dan perasaan. Aktivitas ini dapat membantu memperjelas emosi dan memberikan bukti yang memvalidasi pengalaman Anda.

Mindfulness

Lakukan praktik mindfulness atau kesadaran penuh guna membantu Anda tetap fokus pada momen saat ini. Sehingga Anda dapat mengamati perasaan tanpa menghakimi. Pun benar-benar menyadari tiap emosi ataupun kejadian yang mengalir pada saat itu.

Self-gaslighting merupakan masalah kompleks yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan persepsi diri seseorang secara signifikan. Dengan memahami akar dan manifestasinya, individu dapat berupaya mencapai penerimaan diri dan validasi emosional. 

Membebaskan diri dari siklus keraguan diri membutuhkan upaya disengaja dan sering kali dukungan dari orang lain, tetapi ini merupakan langkah penting menuju kehidupan lebih autentik. Terima perasaan Anda, percayai pengalaman Anda. Anda layak mendapatkan belas kasih dan pengertian dari diri sendiri.