YOGYAKARTA – Gaslighting dan playing victime merupakan perilaku manipulatif yang dapat merugikan kesehatan mental seseorang. Lantas, apa bedanya gaslighting dan playing victim?
Secara sederhana, gaslighting dapat diartikan sebagai tindakan manipulasi emosi yang membuat korbannya merasa rendah diri, mengalami kecemasan, depresi, hingga jatuh mental.
Sedangkan playing victim adalah teknik berpura-pura menjadi korban untuk mendapat simpati atau menghindari tanggung jawab.
Baik gaslighting maupun playing victim, keduanya merupakan bentuk manipulasi yang merusak dan bisa terjadi bersamaan, namun tujuan utamanya berbeda.
Mengetahui perbedaan gaslighting dan playing victim akan membantu Anda terhindar dari perilaku manipulatif ini.
Apa Bedanya Gaslighting dan Playing Victime
Dihimpun dari berbagai sumber, perbedaan gaslighting dan playing victim dapat diketahui lewat beberapa hal berikut ini:
- Tujuan
Perilaku gaslighting dilakukan agar orang lain mengambil tangging jawab atas permasalahan yang sedang terjadi. Padahal, masalah bukan mereka yang menyebabkan masalah tersebut.
Alhasil, korban gaslighting akan ragu terhadap dirinya sendiri, sebab mereka meragukan ingatan, dan kemampuan untuk membedakan fakta.
Sementara playing victim, perilaku manipulatif ini dilakukan untuk mendapatkan simpati dari orang lain.
Menyadur buku Family Constellation karya Meilinda Sutanto, playing victim sering dijadikan sebagai metode untuk mencari perhatian, serta mengontrol pikiran dan perasaan orang lain, agar mendapat belas kasihan.
- Fokus Manipulasi
Perilaku gaslighting berfokus pada penghancuran kepercayaan diri mental korban. Manipulator menargetkan cara korban memaknai kenyataan, sehingga korban merasa pikirannya sendiri tidak dapat diandalkan.
Hal ini berbeda dengan playing victim yang berfokus pada pengelolaan emosi orang lain. Pelaku memanipulasi rasa iba, kasihan, dan empati agar pihak lain merasa bersalah dan merasa wajib memaklumi perilakunya.
- Cara yang Digunakan
Gaslighting dilakukan melalui penyangkalan fakta, perubahan narasi kejadian, pengaburan kebenaran, hingga meremehkan perasaan korban. Pelaku sering bersikap seolah-olah korban berlebihan atau salah paham.
Sedangkan playing victim dilakukan dengan keluhan berulang, cerita sepihak, dramatisasi penderitaan, serta menyalahkan lingkungan atau orang lain. Pelaku jarang mengakui kesalahan dan cenderung mencari pembenaran.
BACA JUGA:
- Dampak pada Korban
Korban gaslighting sering kali merasa kebingungan dan kehilangan rasa percaya pada penilaian pribadi. Dalam kondisi ekstrem, korban bisa merasa tidak berdaya dan takut mengambil keputusan sendiri.
Pada playing victime, korban cenderung merasa bersalah terus-menerus, memikul tanggung jawab emosional yang bukan miliknya, serta kesulitan menetapkan batasan karena takut dianggap tidak peduli.
- Posisi Pelaku
Pelaku gaslighting menempatkan diri sebagai pihak yang selalu benar, rasional, dan dominan. Ia menciptakan hierarki kekuasaan psikologis di mana korban selalu berada di posisi lebih rendah.
Sementara pelaku playing victim menempatkan diri sebagai sosok lemah dan tersakiti, padahal sering kali ia adalah pemicu konflik. Posisi ini digunakan sebagai tameng untuk menghindari kritik.
- Efek Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, gaslighting dapat menyebabkan gangguan kecemasan, depresi, trauma emosional, serta rusaknya identitas diri dan kepercayaan terhadap orang lain.
Sedangkan perilaku playing victim menciptakan pola hubungan yang tidak sehat, tidak seimbang, dan dipenuhi rasa kasihan palsu. Korban berisiko mengalami kelelahan emosional dan kehilangan ruang untuk kebutuhan diri sendiri.
Demikian penjelasan tentang apa bedanya gaslighting dan playing victime. Semoga bisa menambah wawasan pembaca. untuk mendapatkan update berita pilihan lainnya, baca VOI.id.